Candrianto (Reuni Ikasmala 2011)

Alhamdulillah, mulai pukul 09.30 sampai dengan 17.45 Wib acara Halal Bihalal & Temu Alumni IKASMALA berjalan lancar dan dibuka oleh Bapak Bupati Padang Pariaman Diwaikili Oleh Bapak SEKDA dan dihadiri sebanyak 450 orang mulai dari angkatan 1982 sampai dengan 2011, Terima kasih atas dukungan kakak, rekan dan adik semua semoga IKASMALA tetap berjaya dan berkibar di kawasan nusantara. Kami atas nama Panitia pelaksana mohon maaf jika ada yang tidak berkenan selama pelaksanaan kegiatan tadi, Azminur (ketua/1988) dan Candrianto (Sekretaris/1989), salam kompak selalu..... (sumber: Facebook/Candrianto)
Selengkapnya

Reuni 89 Penuh Berkah

Pertemuan alumni 89 tahun ini, di hari lebaran penuh rahmat dan berkah,benar-benar sangat mengesankan dan membawa berkah. Kehadiran banyak teman-teman lama, yang sebelumnya belum pernah hadir memberikan sebuah nuansa baru ikatan alumni 89. Sebut saja, kehadiran Andarini Diharni, yang jauh-jauh datang dari Bogor karena kuliah S3 di sana serta meninggalkan keluarga, untuk bertemu teman-teman lama. Juga, Aditiawarman (alias Edi Labai, Pasir Lawas), yang juga pertama kali hadir (setahu saya), Subhari Rahmat, dan sejibun teman-teman lain yang akan saya tuliskan di bagian cerita ini. Reuni 89 ini sengaja dilaksanakan di SMA kit dulu (SMA N Lubuk Alung) sekedar kembali mengenang segala sesuatunya yang pernah dialami di sana 22 tahun yang lalu. Reuni Jumat, 2 September 2011 ini, diiringi dengan musik organ tunggal milik sobat kita, Sahbana Syam. Kegiatan alumni memang bukan sembarang kegiatan. Itu terbukti dengan keseriusan panitia pelaksana Reuni membikin program: misalnya
1. Acara salam-salaman (minal aidin wa alfaizin), syukurlah nggak ada "cipika dan cipikinya he..he.". 2. Hiburan sejenak yang diisi oleh alunan-alunan tembang kenangan oleh teman-teman. 3. Sholat Jum'at di mesjid SMA kita Ulul Al Baab, 4.Makan siang bersama. 5. Kata sambutan acara oleh Ketua Umum Ikasmala, oleh kakanda Alrefinus, MM. 6. Penyampaian pengurus Alumni'89 yang baru (pengganti pengurusan lama yang diketua Alm. Yusnedi Yakub, SH), 7. Penyampaian Program Alumni '89 yang telah dilaksanakan dan yang akan dikerjakan. 8. Kata Sambutan ketua alumni '89 yang baru. Istirahat sejenak (Panggilan Shallat Ashar), 9. Acara hiburan sambil berdoncek. 10. Joget bersama. 11. Penutup. Oh ya... Jika teman-teman masih punya banyak waktu membaca coretan ini, saya mau menjelaskan kegiatan-kegiatan ini dari awal. Setiap program acara dari awal sampai akhir memang mengesankan.

Pertama, pada acara salam-salaman, saya menyalami semua teman-teman yang sudah duluan hadir. Pegangan dan genggaman tangan mereka semua terasa begitu erat dan hangat. Saya merasakan bahwa ada curahan perasaan rindu bertemu yang lama terpendam. Aura pertemuan terasa bagaikan 22 tahun yang lalu. Saya menyalami semua teman dengan gembira. Yang saya ingat di antaranya adalah M. Ridwan, Ajisman, Christiana, Dt. Yosmadi, Candrianto, Mastian, Rostam Effendi, Agusrida, Marzuki dan Mul (istri), Roseva Maidiyanti, Syaiful Ongly, Aditiawarman (Edi Labai), Dedi Kartika Chandra, Buyung Husni dan kembarannya (Nil Husni), Benny, Maiyunis, Retna Sari Dewi, Ayu (alias Leindrawati Megahayu), Upik Tiwi, Rina Herni, Ita Bakrizul, Feri Kadi, Eri Brik, Zulfiatno, Ristiyenti, Sahbana Syam, Andarini Diharmi, Armanto, Hari Yalkher dan istri (Dewi), Subhari Rahmat bersama seorang putranya, buk Yanti Gustini, Wirna Juita, buk Marlina Syam, dan Wismarni. Well..... meski banyak yang saya salami, saya merasakan adanya kebahagiaan dari setiap jabatan tangan.Seterusnya, bagi teman-teman lain yang terlupa saya tuliskan dalam blok ini, mohon dimaafkan. Yang pasti, kita semua hadir ada sekitar lima puluh orang lebih.

Acara kedua diisi dengan alunan-alunan tembang kenangan oleh teman-teman '89. Dedi KTC (alias Dedi Kartika Chandra) pertama kali melantunkan tembang "Semalam di Cianjur". Mastian melagukan "Usah Kau Kenang Lagi", Upik Tiwi dengan "Kerinduan", Ita dengan lagu "Kenangan Desember", trus M. Ridwan dengan "Bapondoh-pondoh", dan buk Yanti dengan lagu wajibnya "Kemuning" he.he.he. Sebenarnya banyak kali lagu-lagu yang dinyanyikan mereka, tetapi, saya hanya ingat sebahagian saja. Bila ada lagu-lagu kenangan di alunkan, teman-teman pada cari pasangan menari. Kecuali saya, karena saya nggak pandai menari. Dedi KTC memilih pasangan tarinya Roseva Maidiyanti, trus teman-teman lain langsung nimbrung nari bersama. Yang tidak mau menari dipaksa nari. Benny, Maiyunis, Syaiful dan Saya didorong teman-teman lain untuk ikut menari. Kami akhirnya menari juga, menari ala "prajurit berbaris". Sekali-sekali, saya juga menyempatkan diri melirik seseorang yang juga sedang menari.

Ketiga, inilah acara yang paling ditunggu...he..he..he.. Sholat berjamaah di Mesjid SMA, Ulul Al Baab. Di ruang mesjid itu, terlihat pula banyak alumni angkatan 91, angkatan 82, dan sekelompok jemaah dari panitia Ikasmala. Mesjid Ulul Al Baab dipenuhi oleh jemaah alumni dan beberapa orang siswa SMA. Saat mendengarkan khutbah, hujan lebat sekali. Namun, kekhusyukan tidak berkurang. Kami masih bisa mendengarkan khutbah ustad mesjid lewat pengeras suara. Hingga sholat Jumat selesai, hari juga masih hujan.

Setelah itu, kami akhirnya makan siang bareng di ruang majelis guru. Saya mengambil tempat duduk di urutan meja sayap kiri. Di belakang meja itu, masih ada tiga buah kursi kosong. Pada awalnya, saya sendiri yang duduk. Tak lama kemudian, datang Retna Sari Dewi dan Risti Yenti bareng duduk. Saya duduk di kursi diantara mereka berdua. Nasi bungkus itu punya ikan gulai air tawar. Rasanya enak. Tetapi, saya tidak bisa menghabiskan nasi yang segunung itu. Apalagi duduk di dampingi oleh teman-teman wanita. Malu..he..he..he... Saya selesaikan makan dengan nasi yang masih banyak tersisa. Maaf... kenyaaaang..

Tidak lama setelah selesai makan siang, kami pindah duduk ke luar menuju kursi-kursi yang telah tersedia. Acara dibuka oleh Candrianto. Pada awalnya Candrianto bermaksud memulai acara secara formal. Tetapi, banyak teman yang meminta agar diberikan hiburan terlebih dahulu. Permintaan teman-teman dikabulkan. Kembali alunan-alunan tembang memori dilantunkan oleh sobat-sobit kita. Setelah beberapa lagu, akhirnya Candrianto mengambil alih mic kembali. Ia mulai melaporkan susunan pengurus baru Grasmala 89. Pengurus baru yang dimaksud itu adalah:
  1. M. Ridwan (Ketua)
  2. Ajisman (Sekretaris)
  3. Christiana (Bendahara)
  4. Yosmadi (Koordinator acara)
Setelah itu, Candrianto melaporkan bahwa tahun 2010 yang lalu, Grasmala 89 telah memberikan beasiswa untuk 10 orang siswa-siswa berprestrasi tetapi kurang mampu di bidang ekonomi. Disampaikan, bahwa ke sepuluh siswa yang diberikan beasiswa tersebut telah menamatkan SMA nya dan telah melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi. Namun, pengurus mengakui bahwa sampai sekarang mereka belum melacak dimana posisi perguruan tinggi dari ke 10 siswa tersebut. Tahun 2010, ada 10 orang Donatur @Rp50.000 perbulan yaitu Christiana, Candrianto, Rostam Effendi, Agusrida, Dt. Yosmadi, Tasril Bartin, Zeni Harnadi,  Yusnedi Yakub (Alm), dan M. Ridwan. Selanjutnya, Alhamdulillah, sambil melaporkan program ini, Donator beasiswa tahun ini 2011, bertambah 12 orang lagi. Sehingga, jumlah donatur sudah menjadi 22 orang. Ke 12 Donatur baru itu ialah Benny, Maiyunis, Wismarni, Feri (Kadi), Syaiful, Roseva Maidiyanti, Andarini Diharmi,  Dewi Hartti, Dewi Astati, dan Sahbana Syam.

Pada acara pengumpulan dana lewat kardus Aqua yang "dijalankan", terkumpul uang dua juta delapan ratus ribu rupiah (Rp2.800.000,-). Uang ini digunakan untuk 2 tujuan, pertama, 1.800.000 untuk biaya acara yang sedang berlangsung, kedua, 1.000.000 untuk disumbangkan ke sekolah lewat lelang kue acara pertemuan alumni IKASMALA (seluruh angkatan) pada esok harinya (Sabtu, 3 September 2011).

Selanjutnya, ada kata sambutan dari Ketua Umum Ikasmala. Beliau menyambut dengan gembira adanya kegiatan Reuni Grasmala. Ketua menyatakan salut dan bangga dengan ke solidan, keakraban, dan persatuan yang diperlihatkan oleh masing-masing individu alumni Grasmala89.
         Kata sambutan berikutnya dilanjutkan oleh ketua pengurus Grasmala 89 terpilih, M. Ridwan. Sang Ketua mengatakan bahwa posisi atau kedudukan dia dalam reuni maupun berteman adalah sama tinggi. Tidak ada pangkat yang dibawa, ataupun tidak ada embel-embel lain yang perlu dipakai. Kita semua berada dalam koridor alumni. Juga, Ridwan menyatakan dengan tegas akan kecintaannya pada semua teman-teman dan keinginannya bersama para alumni untuk membantu kemajuan SMA N 1 Lubuk Alung.

Acara selanjutnya adalah kembali ke acara hiburan. Di akhir jam acara ini (jam 4:00 sore), lantunan lagu-lagu ceria mengajak kami turun berdansa. Meskipun hujan lebat sekali, lagu-lagu melayu dan dansa bersama menghangatkan suasana. Semua merasa senang dan gembira. Tidak ada seorangpun yang terlihat murung ataupun kecewa. Memang benar.... Reuni tahun 2011 ini, memberikan berkah dan mempererat tali persaudaraan. (Ar).
Selengkapnya

Tasril Bartin

Tasril dan Risti Yenti. 
DR. Tasril Bartin. HP: 081387419470.
Bareng makan duren di rumah Dt. Yosmadi, Sungai Asam Sicincin.


Selengkapnya

Dedi Kartika Chandra

Employer: PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. 2002-2008
College: Universtas Bung Hatta, 1999
High School: SMA Negeri 1 Lubuk Alung, 1989
Class: III IA-1
Phone: 082110860040
Email: dedykachan@yahoo.com
Foto ini diabadikan ketika kami bersama-sama pergi ke rumah Dt. Yosmadi, Sungai Asam, Sicincin. Dalam foto terlihat Dedi KTC segar bugar, berotot, dan suka senyum.  Ia salah seorang sobat kita yang sukses di bidang bisnis. Meskipun rambutnya terlihat 'gaul' (hitam dan putih), tetapi sikap dan pribadinya masih Dedi KTC yang dulu. Berjiwa muda dan Bersahabat.
Quiz: Siapakah gerangan nama teman-teman yang berada di belakang Dedi?
Selengkapnya

Hari Yalkher

Hari Yalkher

KMI Gontor Ponorogo, 1989 

College: IAIN Imam Bonjol Padang, 1992.

Status: Married to Gusti Sofia

    Email: hariyalkher@ymail.com
      Alumni: SMAN Lubuk Alung 89


      Semua kita tahu dengan kepiawaian teman kita yang satu ini, Hari Yalkher. Ustad dan pengusaha sukses. Orangnya tenang, sopan, tetapi kadang-kadang suka humor. Enak diajak bicara. Dan, yang terpenting, IA SELALU MENCINTAI ALUMNI. Semoga Sukses Selalu

      Selengkapnya

      Risti Yenti


      Nama Lengkap: Risti Yenti, M.Pd
      Panggilan: Ris
      Alamat: Pekanbaru
      Pekerjaan: Guru dan PKS Kurikulum SMPN 14 Pekan Baru (Jan-skrg)

      Pendidikan: Universitas Negeri Padang, 2007 · M.Pd · Pend. Matematika

      IKIP Medan, 1990 Mathematics
      SMAN Lubuk Alung, 1989, III A1 (Fisika)
      SMPN Lubuk Alung, 1986, III G


      Selengkapnya

      Sehari Bersama Mu Sobat.

      Yusnedi Yakub (Alm)
      Kepergian mu ke alam sana, sangat mengejutkan.
      Kepergianmu juga membawa sebahagian dari hidup saya.
      Sehari sebelum kepergianmu ke alam baka, kita masih bercanda ria. Bercerita tentang masa-masa sekolah kita dahulu. teman-teman kita, dan tentang orang-orang yang kita sayangi dan yang kita cintai, yang pernah singgah dalam hati kita. Saya doakan semoga hidupmu lebih baik lagi di alam sana. Tidurlah dengan tenang dan damai sahabat. Semoga amal dan ibadahmu dapat mendamaikan tidurmu. Amiin.


      Sabtu,15 Januari 2011 Jam 11:00 pagi,
      Saya bersama Christiana dan Wiwi (Sahabatnya Cristiana) sudah sampai di rumah Yusnedi di Lubuk Minturun. Pintu mobil Katana merah langsung saya buka, Christianapun melakukan hal yang sama. Dihadapan kami berdiri, menjulang sebuah rumah besar. Itulah rumah Yusnedi Yakub. Desain rumahnya mewah dan elegan. Garase mobilnya bergaya artitistik klasik meskipun tempat mobil itu belum sepenuhnya siap. Dinding rumahnya baru saja siap diplaster. Belum dicat. Meskipun rumah itu baru siap 40% pekerjaannya, ditaksir rumah itu akan menelan biaya yang cukup besar sampai kelar.
      Saya duduk berjuntai di bibir teras rumahnya. Kami menunggu kedatangan Yusnedi yang katanya masih di luar. Tidak berapa lama kemudian, Yusnedi sudah sampai di depan rumahnya dengan Avanza hitam. Ia bersama dengan isteri dan seorang anak lelakinya.
      "Udah lama sampai Ar?" katanya memulai percakapan awal.
      "Barusan Edi. Baru lima menit" jawab saya.
      Yusnedi memulai pembicaraannya tentang rumahnya.
      "Besar kan Ar rumah saya?"
      "Besar sekali Di.. kesannya juga mewah" balas saya
      Ia melanjutkan: "Ruang tengah ini bisa menampung 200 orang teman kita Ar, ikasmala 89. Juga untuk diskusi pemilihan bupati empat tahun yang akan datang" kelakarnya.
      "Bagusnya memang disini aja kita gelar pertemuan alumni ikasmala 89 Di, tempatnya sangat besar. Trus, kalau Di mau jadi Bupati, itu tanggung Di, bagusnya mencalonkan diri aja jadi gubernur" jawab saya berseloroh.
      "Ya iyalah Ar, tapi kita mulai dulu dari bawah, ya nggak" katanya sambil tertawa kecil.
      Sambil bicara, jari-jari tangan saya sibuk mencari nama Rumzi dalam hp saya. Saat nama Rumzi muncul, saya langsung menghubunginya. Rumzi menjawab salam saya, ternyata ia di Bandung karena ada urusan di sana. Saya mengatakan kepada Rumzi bahwa Christiana dan Yusnedi Yakub ada bersama saya. Lalu, saya memberikan hp saya kepada Yusnedi. Akhirnya kami menelpon bareng berempat (teleconfrence) sambil bersenda gurau. Pembicaraan cukup lama dan menyenangkan.

      Tidak beberapa lama, di depan kami lewat penjual buah-buahan dengan becak gerobaknya. Yusnedi mengeluarkan tiga lembar uang lima ribuan dan memberikannya kepada saya.
      "Ar, beli buah-buahan! katanya.
      Saya mengangguk dan menepis uang yang disodorkannya. Saya maunya membeli buah-buahan itu dengan uang saya sendiri. Tetapi, Yusnedi bersikeras agar uangnya yang dipakai untuk beli buah-buahan. Saya terpaksa mengambil uang itu dari tangannya.
      Saya membeli lima iris semangka, lima iris pepaya, dua bungkus tebu yang sudah dipotong-potong kecil, dan  tiga iris nenas. Kelima belas buah-buahan itu saya bawa ke dalam rumah. Di salah satu dinding, di tengah rumah raksasa itu, Yusnedi mengembangkan sebuah tikar plastik warna oranye buram. Kami duduk di atas tikar itu. Pembicaraan kami lanjutkan.
      Awalnya saya yang mulai angkat bicara: "Edi saya minta tolong nih, gimana caranya pindah ngajar ke Perguruan tinggi swasta kopertis wilayah x?" . Lalu ia menanggapinya: "Sebenarnya, Ar bagusnya ngajar di perguruan tinggi negeri aja, kan di sana banyak peluang untuk karir akademik". Tetapi, ya itu semua tergantung kepada tujuan Ar pindah ke sana?
      Saya memahami maksud pertanyaannya. Saya menjawab: "ke perguruan tinggi negeri memang bagus Edi. Dapat gelar, dan bisa kuliah ke tingkat yang lebih tinggi, bisa nanti jadi profesor. tetapi, saya nggak memikirkan itu lagi Edi. setelah umur 41 ini, saya lebih fokus pada umega aja di,, yaitu usaha menambah gaji. Biarlah nama, pangkat dan jabatan itu milik orang lain, yang penting bagi saya adalah gimana caranya ada perubahan ekonomi hidup saya" begitulah saya mengomentarinya."Kalau begitu Ar, ya baguslah Ar di kopertis saja. Nanti saya coba minta bantuan pada teman saya yang ada di kopertis" jawabnya.Lalu, Wiwi (teman christiana) meminta bantuan juga tentang perkara tanah di kampungnya yang belum berakhir hingga sekarang. pada hal dalam keputusan pengadilan, pihak Wiwi menang perkara, namun pihak rivalnya tidak menerima kenyataan itu.
      Yusnedi lagi-lagi menjawab pertanyaan itu dan memberikan solusinya. Ia berbicara sangat antusias, tampaknya ia hafal semua pasal-pasal perkara tanah dengan sempurna. Ia juga menjelaskan perkara tanah yang ada di Minangkabau ini. Ia bahkan banyak mengetahui adat hukum Minangkabau, ia juga menjelaskan kepada kami beda jenis-jenis kepemilikan tanah di Minangkabau. Ia juga membedakan antara sako dan pusako. Semua ia tuntaskan dengan ringan dengan hukum adat yang ada.Yusnedi lagi-lagi banyak cerita tentang kenangan masa lalu di SMP. Saya yang sekelas dengan dia terus menyela dan menyambung pembicaraannya sehigga cerita dulu itu menjadi lengkap. Ia mulai menceritakan kemampuannya memimpin barisan dan memimpin upacara waktu di SMP. Lalu, saya memotong pembicaraannya. "Edi, kamu tahu nggak kenapa kami memilih kamu sebagai ketua kelas I G dulu?" Lalu ia jawab:"Ya, karena saya mampu lah AR" jawabnya pede. "Waktu itu bukan itu alasannya Edi, kami memilih kamu sebagai ketua kelas kami karena suaramu yang besar dan keras itu". Ha..ha..ha...ha.. kami sama-sama ketawa... Kalau kamu yang memimpin upacara nggak perlu pakai mik Edi, udah kedengaran jelas dari barisan belakang" kata saya.Terus kami mulai menceritakan, tentang teman-teman kami yang ngetop waktu kelas IG dulu. Mereka ngetop karena mereka sering dipanggil keluar-masuk kantor; karena alasan kecil-kecil udah pada pacaran..he..he..he.. (Yah.. memang waktu itu kelas I-G penuh dengan gadis-gadis cantik yang sering diincar oleh siswa-siswa kelas lain.)
      Kami juga sempat membicarakan tentang wali kelas kami waktu kelas 1-g itu. Kami punya tiga orang wali kelas dalam satu tahun, wali kelas kami yang pertama adalah ibu Deswita Diana. Kemudian karena ibu Deswita Diana hamil, ia cuti ngajar. Wali kelas kami yang kedua adalah ibuk Laila ... (laila apa ya? saya lupa ujung namanya). Kemudian, entah apa sebabnya, wali kelas kami digantikan pula oleh ibu Desima. Trus, Yusnedi bilang bahwa buku rapor kami yang semester satu, dia yang ngisi. Katanya, ibu Desima meminta pertolongannya untuk mengisi rapor.
      Yusnedi terus ngoceh berapi-api tentang kegiatan pramuka di sekolah. Ia tetap menjadi ketua dan yang terbaik. Bahkan, ia juga mengatakan bahwa bila ada kegiatan pelatihan-pelatihan ia terus mendapatkan nilai terbaik.
      Saat ia berada dalam pelatihan kejaksaanpun, ia juga mendapatkan peringkat tiga besar se Indonesia. Puncak pembicaraannya, Yusnedi juga bercerita tentang kepiawaiannya memimpin upacara di lapangan gubernur. Katanya upacara yang ia pimpin persis seperti suasana upacara di istana negara, kidmat dan tertib. Lalu, katanya, selesai upacara semua teman menyalami dia, bahkan isterinya pun memeluknya erat-erat saking bangganya pada suaminya. Yusnedi bicara berapi-api, seolah-olah ia tidak mau meninggalkan sedetikpun cerita tentang dirinya. ia juga menyampaikan kepada kami tentang penghargaan yang ia peroleh. Terakhir, ia juga menyampaikan kemampuannya saat tarik suara di tempat ia pelatihan.
      Pembicaraan tentang seseorang yang ia kasihi juga tidak luput siang itu. Secara jujur ia menyatakan perasaannya kepada kami dan juga pada si dia. saya terkadang juga heran mengapa ia berani mengutarakannya dihadapan isterinya sendiri. Ada sesuatu yang aneh dari dirinya, tetapi saya tidak bisa menterjemahkan keanehan itu. Saya juga merasa kasihan kepada hatinya dan cintanya yang terpendam kepada seseorang, sehingga ia sering menanyakan keadaan buah hatinya itu kepada saya setiap saat. namun, ia juga menyadari sendiri bahwa cintanya itu tidak mungkin lagi berbalas, karena ia sudah memiliki pilihannya, dan orang yang dicintainya juga sudah milik orang lain.
      Ia pernah bicara pada saya. "Ar... suatu hari nanti saya akan menyanyikan sebuah lagu. Judulnya "Menjemput yang tertinggal". Bahkan ia perjelas lagi dalam bahasa Minang :Manjapuik yang taicie.

      Jam 12:30.
      Perut kami sudah terasa kosong, ingin untuk diisi. Yusnedi mengajak kami untuk makan di sebuah makan yang tampaknya terkenal atau sering ia kunjungi di Lubuk Minturun ini. Saya lupa nama rumah makan ini. Tetapi saya ingat letaknya, yaitu di tepi drainase, dan di depannya terbentang jembatan panjang dan lebar. Dan... di atas jembatan pinggir kiri itu kami memarkir mobil. Kami memilih tempat duduk di bagian sebelah utara yang dekat dengan aliran air mengalir. Kami duduk bersila. tidak ada kursi. Hanya meja makan yang berkaki pendek. 20 centimeter cuma tingginya.

      Makanan sudah terhidang dihadapan kami. semua hidangan sudah siap."Yang bertutup kain pisang tu, enak rasanya AR" kata Yusnedi memulai pembicaraan sambil makan. "ya.. kelihatannya mengundang perhatian saya. Sepertinya semua yang tertutup itu menggugah hati kita untuk melihatnya. Apa gerangan makanan yang ada di dalam bungkusan daun pisang ini?" kata saya bergurau. "Ya.. buka aja AR!" katanya. Saya langsung membuka bungkusan daun pisang itu. saya coba merobek sedikit saja daun pisang itu, saya melihat ada rebus petai, ikan teri rebus bergelimang dengan samba lado giling. Saya coba cicipi ikan teri bercampur cabe itu. Pedas. Tetapi enaak sekali.
      "Nah gimana rasanya Ar" tanya Yusnedi.
      "Betul Edi, Enaak sekali."
      "Dipakai nggak Ar, gulai kepala ikan asin tu?" tanyanya sambil menunjuk ke gulai ikan yang terletak dihadapan saya. Saya langsung mengangkat piring gulai ikan itu dan memberikan kepadanya.
      Kami makan dengan lahap. Yussnedi masih bisa bercanda pada Christiana. Ia mengambil piring sebuah gulai dan menyerahkannya kepada Christiana sambil berkata: "Tengok Ar, betapa baiknya saya Tachi ini (maksudnya Christiana)". Kami semua membalasnya dengan senyuman saja.
      Selesai makan siang, kami sholat bergantian. Giliran ibu-ibu yang duluan sholat. Saya dan Yusnedi menunggu giliran. Saya memperhatikan mata Yusnedi tertuju kepada Christiana yang sedang sholat, dekat disampingnya. Batas tempat sholat dengan tempat duduk kami hanyalah dibatasi sehelai tikar pandan tipis saja. Sekilas saya lihat Yusnedi melamun habis. Matanya berhenti berkedip. Terbuka. Menerawang.
      Saya mengejutkan dia. "Kok. termenung Di? Sebenarnya saya tahu bahwa dia menatap kekasih hatinya dengan pandangan yang cukup berarti. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Apakah ia ingin menyampaikan sesuatu sebelum ia meninggalkan dunia ini? Wallahu alam saya tidak pernah membayangkan pikirannya seperti itu.
      Yusnedi sedikit terjaga dari lamunannya menatap kekasih hatinya itu. Tetapi, tampaknya ia mampu menetralkan keadaannya. Ia tersenyum kepada saya untuk bermaksud tidak terjadi apa-apa, tetapi ia tidak berkata sepatahpun.
      Kini tibalah giliran saya dan Yusnedi untuk pergi ke kamar kecil untuk berwudhu. Di depan kamar kecil itu, Yusnedi menyempatkan dirinya untuk bertanya pada saya tentang kekasih hatinya. Saya menjawabnya bahwa Edi tidak bertepuk sebelah tangan. Saya katakan bahwa dia juga mempunyai perasaan yang sama seperti yang dia rasakan. Lalu, saya langsung masuk ke kamar kecil untuk berwudhu.
      Setelah berwudhuk, saya langsung pergi ke tempat sholat. Ada dua sajadah terdampar di tempat sholat. yang satu berwarna hijau letaknya agak ke depan, dan sajadah yang satu lagi adalah merah yang letaknya agak ke belakang. Saya memilih sajadah hijau untuk tempat sholat.
      Sambil sholat (mungkin saya tidak khusuk sholatnya), saya merasakan bahwa Yusnedi juga sudah mengangkat kedua belah tangannya ke atas untuk mengucapkan Allahu Akbar.
      Saya melanjutkan sholat saya hingga rakaat terakhir. Saya berdoa pendek dengan membaca doa sapu jagad, Rabbana attina dan seterusnya. Tetapi, saya belum beranjak dari sajadah tempat sholatku. Saya menunggu Yusnedi hingga siap sholat. saya memperhatikan betapa khusuk sholatnya. Lalu, setelah menutup salam terakhirnya, Yusnedi berdoa dengan takjub, terlihat di keningnya yang sedikit berkerut sebagai pertanda ia benar-benar meminta kepada Allah agar doanya dikabulkan oleh Allah.

      Selesai berdoa, saya menyalami Yusnedi. dan, kami kembali duduk kami semula. Tiba-tiba Christiana buka mulut. "Ar, kita jadi ke pasar kan?
      Yusnedi menanggapi perkataan Christiana itu dan menawarkan untuk pergi dengan mobilnya saja.Tetapi saya sedikit menampik untuk tidakjadi pergi ke pasar raya Padang karena saya harus balik lagi ke Lubuk Alung untuk ngajar.
      "Jadi nggak jadi ke pasar Ar?" tanya Yusnedi.
      "Apa boleh buat Edi, saya harus kembali ke Lubuk Alung untuk mengajar di bimbel Global pada jam satu" kata saya.
      Yusnedi memahaminya.
      Jam 1:30, saya diantar Edi ke simpang tiga Lubuk Minturun, di sana, saya turun dari mobil avanza hitamnya, dan pindah ke mobil Katana merah Kristiana. Ia mengantar saya sampai ke Katana itu dan mengingatkan kami untuk berhati-hati. Sekilas, saya melihat sorot matanya yang dalam menatap wajah Christiana. Entah apa maksudnya.

      Kami segera pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Yusnedi atas traktir makan dan kebaikan sambutannya. Ia tidak melambaikan tangannya, tetapi dari kaca spion mobil saya perhatikan bahwa ia menengok mobil kami sampai hilang dari pandangannya.
      Sekitar 45 menit perjalanan, kami sudah sampai di Buayan. Lag-lagi, ada telefon dari Yusnedi kepada saya.
      "Ar, udah sampai dimana?""Buayan Edi, depan SD buayan" jawab saya.
      "Mhhh jangan kau ganggu Ar, teman yang ada disampingmu itu. Aku suka padanya." Demikian Yusnedi berseloroh.
      "Tenang aja ketua. Saya tidak akan mengganggunya. Kan ada pengawal di belakang saya ini. Lagian, keberangkan ini sudah ada izin suaminya" kata saya yang juga sedikit bergurau.
      Pembicaraan kami terhenti karena tampaknya sudah tidak ada lagi yang akan disampaikannya.

      Jam 21:00 malam,
      Saya berdiri menunggu travel yang akan membawa saya ke Pekan Baru. Yusnedi kembali menelfon saya.
      "Ar, Gimana khabarnya Christiana? Apa katanya tadi pagi?" Ia bertanya pada saya seolah-olah ia tahu betul dengan diri saya. Saya mengatakan kepadanya bahwa semenjak pulang dari Padang tadi, saya belum menelpon Christiana. Saya tidak sempat menjawab telefonnya berlama-lama karena mobil travel saya sudah datang. Tetapi, ia masih sempat menyodorkan kepada saya bahwa jika saya punya masalah di pekan baru, telefon sajalah  saya AR, karena banyak teman-teman saya yang bisa membantu Ar di Pekan Baru nanti. Saya mengucapkan terima kasih kepadanya. Dan, kemudian pembicaraan kami terputus.

      Inilah semua pertemuan terakhir saya bersama Yusnedi Yakub. Kepada teman-teman yang tersebut dalam kisah satu hari bersama Yusnedi, saya mohon maaf kalau ada penyampaian yang tidak berkenan. Jujur.
      Selengkapnya

      Apa yang telah kita perbuat untuk alumni?


      Apa yang telah diperbuat oleh ikatan alumni SMA Lubuk Alung? Terutama dari Alumni 1989? Secara parsial, Alumni 89 baru bisa melakukan beberapa hal untuk sekolah. Pertama, Alumni 89 telah memberikan bea siswa kepada beberapa orang siswa miskin. Beasiswa ini diberikan sekali dalam enam bulan guna sedikit membantu meringankan beban mereka. Kedua, Alumni berhasil memberikan bimbingan kepada adik-adik sma tentang pelatihan kewirausahaan. Ketiga, Alumni telah memberikan bimbingan belajar, terutama untuk kelas 3, dalam upaya persiapan menghadapi ujian nasional. Ini saja yang baru dapat diberikan. Seterusnya, semenjak status sma kita berubah menjadi SBI (sekolah Berbasis Internasional) katanya, alumni belum berbuat terhadap sekolah. Mungkin, para alumni sedang mikir-mikir tentang apa yang sebaiknya diberikan kepada sekolah. Ada yang berpikir bahwaalumni peru turun ke lapangan untuk memberikan pengarahan tentang apa yang disebut dengan SNBI itu. Terus, Alumni mungkin perlu pula membantu sekolah tentang apa-apa saja yang diperluakan untuk memicu perkembangan belajar siswa. Hal-hal seperti ini memang ada perlunya dipikirkan. Tetapi, jangan dilupakan bahwa sekolah tidak hanya sekedar untuk mengasah otak saja, tetapi ia harus juga mengasah kepribadian dan moralitas yang halus dan berbudi.
      Selengkapnya

      Sebuah Villa Kecil di Atas Bukit (Kenangan)

      "Jika aku kaya, aku akan membuatkan sebuah villa kecil untuk mu di atas bukit itu". Kalimat imaginatif ini sudah lama saya ucapkan kepada seorang teman. Persis, dua puluh dua satu tahun yang lalu. Waktu itu, hari Minggu siang, saya bersama teman-teman (Rumzi, Christiana, Wildawelis, Risnaneri, dan Ristiyenti) piknik ke Gamaran, Salibutan. Sinar matahari terasa panas sekali seakan-akan ia mampu membakar tubuh.
      Kulit muka dan kulit tangan terasa perih dan panas. Saya berkali-kali menyeka wajah saya yang bersimbah keringat. Teman-teman yang lain juga berusaha menyelamatkan wajahnya dari sengatan matahari; pakai topi dan berkerudung kain. Jalan penuh debu berterbangan. Tidak beraspal, masih jalan tanah bercampur kerikil halus sebesar tinju anak kecil dan sebesar ibu jari orang dewasa. Tanah jalan kering kerontang. Dan, setiap langkah menapak bumi, kepulan debu naik ke udara. Anehnya... kami tidak berniat untuk istirahat atau berhenti sejenak. Perjalanan diteruskan. Di kiri-kanan kami memandang bukit-bukit. Dan, di kaki bukit dari salah satu bukit itu mengalir sungai kecil yang bening dan segar airnya. Ke sanalah tempat tujuan kami. Sambil berjalan ke arah bukit itu, kami mengobrol ini dan itu yang tidak tahu ujung pangkalnya. Ngobrol mulai dari cerita tentang keindahan alam, tentang orang bergembala itik, dan tentang orang-orang yang sedang bekerja di kebun.
          Untuk pergi ke tepi sungai kecil itu, kami harus keluar jalan utama, menuruni tebing jalan yang agak tinggi, lalu melompat kecil ke pematang sawah. Kami menelusuri pematang sawah. Kemudian, melompat kecil lagi di atas saluran irigasi. Hopp... sampai deh kaki kami menapaki pematang sawah yang lain. Langkah kaki semakin dipercepat karena kami melihat aliran air sungai kecil dari kejauhan. Bunyi gemericik airnya pun sudah terdengar. Pikiran sudah melayang untuk bisa duduk di atas batu-batu besar di tepi sungai bening itu. Lalu, sambil menjuntaikan kaki-kaki ke air, merasakan
      kesejukannya untuk melepas kepenatan berjalan.
          Tidak jauh dari tepi sungai itu, ada sebuah pondok rumbia. Kecil. Tapi, cukup untuk berteduh. Kami, langsung menyerbu ke arah gubuk kecil yang tidak berpenghuni itu untuk meletakkan tas-tas. Teman saya, Cik Uniang dengan gembira berlari--lari kecil ke tepi sungai. Ia langsung  ke tepi sungai, mencuci kakinya yang tidak kotor.
          Saya menatap sebuah bukit hijau. Tidak terlalu tinggi. Puncak bukit itu agak datar. Bekas lahan ladang petani.
          "Apo caliak Ar" sapa Dewi.
          "Indaaak. Cuma maliek-liek sajo ka bukik tu" jawab saya sambil mengarahkan telunjuk tangan kanan saya ke arah puncak bukit itu.
      Yang bertanya juga ikut-ikutan melihat ke puncak bukit itu. Dia hanya diam. Tetapi, saya bisa menerka dari arti kerutan di keningnya dan bahasa tubuhnya. Dia bingung. Dan, mungkin mengatakan bahwa tidak ada yang istimewa dengan puncak bukit itu. Saya memahami gerakan ke dua bahunya ke atas yang mungkin mengatakan "tidak apa-apa di bukit sana". 
      Saya langsung angkat bicara.
      "Apo yang tapikie dek Dewi kalau mancaliak bukik tu?" tanya saya ngelantur sambil saya berpikir untuk menjawab pertanyaan saya sendiri.
      "Apo? Indak ado doh. Yang tapikie dek ambo, yo... puncak bukik tu data. Sudah tu, tanahnya bakeh tampek urang baladang. Emangnyo ado apo Ar" tanya Dewi.
      Saya juga terkejut mendengar pertanyaannya seperti itu. Saya terdiam sambil mikir-mikir apa yang ada dalam pikiran saya. Saya sendiri juga tidak tahu jawabannya karena yang saya tanyakan tadi kepadanya adalah asal bunyi saja. Sekarang... saya harus mencari jawabannya.
      "Eh...kok diam. Apo nan tapikie dek Ar kalau mancaliak bukik tu?" tanya Dewi.
      Saya tidak siap menjawab karena saya memang tidak mempersiapkan jawabannya. Lalu, tiba-tiba saja, ada ide baru mengelantur sekedar menjawab pertanyaan teman saya itu.
      "Mmmmh... giko Dewi. Kalau ambo kayo nanti, ambo buekkan Dewi sebuah villa di ateh bukik tu. Pemandangan di ateh bukik itu pasti rancak."
      Yang mendengar tidak memberikan komentar. Diam. Tutup mulut. Tetapi, ia mengalihkan pada pembicaraan lain. Mungkin ia mikir... "Ah... yang nggak-nggak saja pikirannya" atau " mimpi kali".. he..he.. he..
      Saya pun, juga, tidak menanggapi sikap Dewi. Toh, jawaban saya tidak serius pula. Jawaban itu hanya sekedar mengisi keheningan belaka.
      Lalu, tiba-tiba ada suara memanggil.
      "Ar! Dewi! Ayok makan".
      Ternyata yang memanggil Christiana.
      Kami melihat semua teman sudah berkumpul dengan nasi bungkus daun pisang. Saya melihat ado "samba lado", telur itik rebus yang sudah dibuang kulit cangkrangnya (kulik talue). Akhirnya, kami semua makan.
      Teman saya yang lain, RUMZI R, bareng makan. Tapi... saya lupa... apa dia suka "samba lado", ya?
      Akhirnya, setelah menghabiskan banyak kegiatan senang-senang di sana, kami melanjutkan jalan kaki ke tempat lain. (Saya sudah lupa kemana kami pergi setelah berangkat dari tepi sungai itu).
      ******
      Mmmmhhhhhh.... Ini hanya sekedar kenangan. Termasuk salah satu kenangan yang tidak terlupakan bagi saya. Sekarang, kami berlima (Dewi, Rumzi.R, Christiana, Risnaneri, Ristiyenti, dan saya) pergi berpencar entah dimana. Yang jelas tentu "untuk mangurehkan untuang surang-surang" bersama keluarga tercinta.
      Betul kata Pak Mendagri Kita, Gamawan Fauzi (waktu itu ia masih Bupati Solok) bahwa salah satu ciri-ciri orang yang sudah "berumur" itu adalah suka membicarakan masa-masa lalu. (Wajar).
      Selengkapnya

      Apakah sekolah untuk ranah kognitif saja?

      Beban belajar siswa SMA rasanya berat. Sekarang siswa SMA, khususnya di kampung saya, boleh dikatakan rata-rata 8-9 jam dalam sehari. Mereka masuk kelas jam 07:30 dan pulang jam 15.00 sore. Jam belajar diperketat sedemikian rupa dengan dalih siswa-siswa dapat menguasai mata pelajaran dengan cepat. Otak siswa-siswa diperas sedemikian rupa dengan tujuan menciptakan anak yang pintar. Waktu istirahat siswa menjadi kurang, waktu untuk membantu orang tua sudah tidak ada lagi, masa untuk bersosialisasi dengan tetangga ataupun dengan teman-teman dekat boleh dikatakan jarang sekali. Siswa-siswa tenggelam menggerinda otaknya untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah dan pekerjaan rumah. Lalu, saya bertanya dalam hati? Memang inikah tujuan dari pendidikan itu? Apakah sekolah itu hanya untuk mengisi kepala saja? Ah...
      Pendidikan tidak hanya mengisi otak saja, tetapi ia juga mengisi kepribadian dan raga. Pendidikan hampir menjauh dari tujuan pendidikan nasional kita, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan bangsa bukan berarti mencerdaskan otak semata, tetapi bermaksud mencerdaskan sikap, kepribadian, atau perilaku siswa.
      Jika sekolah hanya mengandalkan kecerdasan otak (kognitif), bisakah ini dikatakan bahwa pendidikan di negara kita sudah maju? Sudah sesuai dengan tujuan pendidikan nasional?
      Memang bisa diprediksi bahwa siswa-siswa akan memiliki otak "German" karena otaknya terus diasah untuk pengetahuan. Memang benar mereka bisa mengikuti perkembangan ipek dan teknologi karena mereka diorbitkan untuk itu. Tetapi, bagaimana dengan tingkah laku mereka? Lihatlah siswa-siswa di lingkungan tempat tinggal kita sekarang. Kebanyakan siswa hampir menghilangkan tata krama pergaulan, terutama tata krama dalam budaya Minangkabau, yang dikenal dengan istilah Kato Nan Ampek. Pertama, Kato Mandaki. Yang Gadang Dihormati. Tetapi, banyak siswa sekarang sudah tidak lagi menghargai orang yang lebih besar dari mereka. Semuanya "dibawo lalu". Kedua, Kato Manurun, Yang Kecil Disayangi. Sekarang ini, jangankan mereka menyayangi yang kecil, umumnya anak-anak sekolah tidak lagi memperhatikan orang-orang disampingnya. Mereka tidak banyak yang menyayangi orang yang lebih muda daripada mereka. Ketiga, Kato Mandata, Samo Gadang Dibawo Baiyo. Siswa sekarang banyak yang bersikap nafsi-nafsi - mementingkan dirinya sendiri. Saling membantu untuk kebaikan jarang terjadi. Yang banyak terjadi adalah melakukan perbuatan terlarang jika mereka berkumpul dengan teman sebaya. Terakhir,Kato Malereng, Kato khiasan pado Urang Sumando. Namun, entah karena perkembangan zaman, atau karena apa, kata-kata melereng ini sangat jarang dimiliki oleh anak-anak sekarang.
      Semua argumen di atas menandakan bahwa benih-benih otak German berprilaku Mafia akan mudah terjadi. Diakui atau tidak, perilaku siswa-siswa sekarang ini ada hubungannya dengan kurikulum kita.
      Selengkapnya