Kamis, Juli 02, 2009

Selamat datang di SMA Lubuk Alung

Selamat datang. Buat adik-adik yang telah berhasil mengikuti test matematika dan bahasa Inggris, kakak ucapkan selamat berhasil. semoga di sekolah kita ini, adik-adik dapat lebih terpacu lagi untuk mengikuti pelajaran dengan baik. Sebagai sekolah rintisan internasional, satu-satunya sekolah pilihan di Kabupaten padang pariaman, kakak menasihatkan supaya lebih giat lagi belajar. Ingat toh, bahasa Inggris adalah bahasa Pengantar di sekolah kita ini. Jadi mau tidak mau adik-adik harus belajar lagi untuk keterampilan ini. Terus, jangan lupa kalau ada masalah bahasa Inggris, kakak-kakak kamu dari alumni SMA Lubuk Alung, memiliki wadah untuk membantu para adik-adiknya. Yang penting hari ini adalah kehadiran adik-adik di SMA tercinta ini merupakan suatu langkah pasti menuju masa depan. Jangan lupa berdoa dan berusaha terus untuk kemajuan bahasa Inggris adik-adik. kalau ada masalah, hubungi aja kakak dalam blog ini. misalnya, hubungi armanto75@yahoo.com.

Senin, April 27, 2009

Singgalang Online:Menjual Goreng, Anaknya Jadi Dokter

Senin, 27 April 2009 Menjual Goreng, Anaknya Jadi Dokter YUKE-PADANG —————— Tidak ada yang tak mungkin di dunia ini. Asal berusaha pasti ada jalan. Berusaha pun harus disertai doa, agar mimpi bisa jadi kenyataan. Begitullah yang kini dirasakan pasangan suami istri Zumarni Zainal, 54 dan Asrul Sani, 54, penjual goreng pisang. Meski hanya menyandang status sebagai penjual gorengan, tak menghalangi mereka untuk mengantarkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Perguruan tinggi untuk anak-anak pasangan suami istri asal Magek, Kabupaten Agam ini pun tidak tanggung-tanggung. Dua dari enam anaknya telah menyandang gelar dokter (anak kedua dan ketiga) sedangkan anak ke-empatnya sekarang duduk di semester lima Fakultas Kedokteran Unand. Tiga anak mereka yang lainnya, telah menyandang status S2, kini menjadi dosen agama UNP (anak pertama) lulusan IAIN Imam Bonjol Padang, anak kelima mereka sekarang tercatat sebagai mahasiswa UPI. Sedangkan anak bungsu masih duduk di bangku SMA. “Saya membesarkan mereka dengan cucuran keringat dan ‘air mata’. Sebab hidup kami pas-pasan. Sedangkan cita-cita mereka begitu tinggi. Allah selalu memberi jalan kepada umatnya yang mau berusaha. Alhamdulillah, mimpi mereka dikabulkan. Ini rahmat Allah yang tak ternilai harganya,” kata Zumarni kepada Singgalang di rumahnya Jalan Berok Raya No. 8 Siteba Padang, Minggu (26/4). Awalnya, Zumarni mengaku pesimis mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi. Mengingat profesi mereka yang hanya penjual goreng pisang. Belum lagi adanya cemoohan dari orang-orang yang menyebut tak akan mungkin penjual goreng seperti dirinya bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, apalagi kuliah di fakultas kedokteran. Tapi rasa pesimis dan cemoohan orang itu dia tepis, karena tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Tentunya dengan usaha dan doa. “Cemoohan orang itu saya jadikan semangat, saya berdoa kepada Allah. Setiap malam saya Salat Tahajud, meminta kepada-Nya, agar memudahkan jalan anak-anak menuju cita-citanya,” kata ibu enam anak ini. Lalu, berbekal niat, usaha dan doa itu keinginan Zumarni dan anak-anaknya dikabulkan Tuhan. Meski cita-cita anak pertama mereka Rini Rahman tidak kesampaian menjadi seorang dokter. “Anak pertama saya sebenarnya ingin menjadi dokter, tapi keinginannya itu saya tepis. Karena kondisi keluarga ketika itu tidak memungkinkan. Lalu saya menyarankannya untuk masuk IAIN Imam Bonjol saja,” kenang Zumarni. Berjualan goreng pisang, telah dilakoni Zumarni dan suaminya, sejak 14 tahun lalu. Selama itu pula mereka berjuang untuk pendidikan anak-anaknya. Suka duka dalam bekerja tentu juga mereka rasakan. Meski begitu mereka selalu memanjatkan puji dan syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan kepada mereka dan anak-anaknya. Zumarni mengelar dagangannya di Simpang Jalan Berok Raya Siteba dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Dulu ketika awal berjualan, harga goreng yang dijual Rp200 hingga Rp250/buah. Sekarang goreng yang dia jual Rp1.000/buah. Sedangkan omset penjualan gorengan sekitar Rp600 ribu hingga Rp1,3 juta/hari. Jual beli hingga satu juta lebih ke atas itu bisa didapat Zumarni, bersama suaminya setiap usai Lebaran atau ketika musim hujan. Lalu bagaimana Zumarni memenej keuangan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya? Semua hasil penjualan goreng itu, benar-benar difokuskan untuk pendidikannya anak-anaknya, kebutuhan harian dan modal berdagang. Selain dari hasil menjual gorengan, biaya pendidikan anak-anaknya juga didapat melalui beasiswa dari perguruan tinggi tempat mereka menimba ilmu. Sebab para buah hatinya itu mempunyai otak yang cemerlang. Sebut saja, anak kedua, ketiga dan ke-empatnya yang sudah dan akan menyandang gelar dokter. Mereka adalah lulus PMDK dan lulus UMPTN. Rita Hamdani, 26, misalnya lulus dari Fakultas Kedokteran Unand, mampu menyelesaikan pendidikannya dalam waktu empat tahun. Tak ayal gadis berkulit putih itu, menyandang cumlaude pada tahun 2005 lalu. Rita, anak ketiga dari pasangan yang menikah sekitar 32 tahun yang lalu itu, dari SD hingga SMA selalu meraih juara kelas. “Dana pendidikan anak-anak, benar-benar dari penjualan goreng. Saya dan suami tidak memiliki usaha lain. Beban kami juga berkurang dengan bea siswa yang mereka dapatkan,” jelas Zumarni. Selain dari beasiswa, Zumarni juga mempunyai langganan goreng pisangnya para dokter. Dari para dokter itulah dia selalu bertanya, meminta petunjuk bagaimana melengkapi kebutuhan anak-anaknya yang kuliah di fakultas ke dokteran. Seperti buku, kadangkala ada yang meminjamkannya. Anak-anaknya juga memfotokopi buku-buku yang dipinjam diperpustakaan. “Kalau ada uang, saya pasti membelikan mereka buku. Saya tidak pernah berkata tidak, ketika mereka meminta sesuatu. Sebab saya tidak ingin mematahkan semangat mereka, untuk belajar. Kami mempunyai motto, bagaimanapun pendidikan anak-anak harus selesai,” terangnya. Ketika, anak-anaknya meminta sesuatu, mereka akan meminta dua hari sebelum kebutuhan itu diperlukan. Sebelumnya mereka akan bertanya, apa ibunya punya uang atau tidak. Lalu Zumarni, mengiyakan pertanyaan anak-anaknya, pertanda uang ada di tangan. Anggukan kepala Zumarni kepada anaknya itupun ‘didengar’ Tuhan terbukti dengan mengalirkan rezeki melalui banyaknya hasil penjualan gorengan. Begitulah, Zumarni, perjuangannya bersama sang suami yang lebih dikenal dengan Pak Jenggot. Mereka meretas mimpi di gerobak penjualan goreng pisang. Kelak, ketika pendidikan anak-anaknya selesai, pasangan suami istri yang sebelumnya berniat mencari peruntungan ke Jakarta itu ingin menunaikan ibadah haji ke Mekkah. “Insyaallah, setelah pendidikan anak-anak selesai, kami akan menabung. Untuk menunaikan ibadah haji. Semoga doa kami juga dikabulkan dan kami diberi umur panjang,” kata Zumarni. Sementara anaknya Rita mengatakan, akan membahagiakan orangtuanya, dengan memberikan yang terbaik bagi mereka. Apa itu? Hanya dialah yang tahu jawabnya. o* Source: http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=1264

Selasa, Maret 31, 2009

Kisah David di Telepon Umum

Kisah David di Telepon Umum Kisah yang menarik dimana tetap mempertahankan prinsip menjadi orang baik dan harapan. David kuliah di fakultas perdagangan Arlington USA. Kehidupan kampusnya, terutama mengandalkan kiriman dana bulanan secukupnya dari orang tuanya. Entah bagaimana, sudah 2 bulan ini rumah tidak mengirimi uang ke David lagi. Di kantong David hanya tersisa 1 keping dollar saja. David dengan perut keroncongan berjalan ke bilik telepon umum, memasukkan seluruh dananya yaitu satu keping uang logam itu ke dalam telepon. *"Halo, apa kabar,"* telpon telah tersambung, ibu David yang berada ribuan km jauhnya berbicara. David dengan nada agak terisak berkata: *"Mama, saya tidak punya uang lagi, sekarang lagi bingung karena kelaparan."* Ibu David berkata: *"Anak tersayang, mama tahu."* *"Sudah tahu kenapa masih tidak mengirim uang?"* David baru saja hendak melontarkan dengan penuh kekesalan pertanyaan tersebut kepada sang ibu, mendadak merasakan perkataan ibunya mengandung sebuah kesedihan yang mendalam. Firasat David mengatakan ada yang tidak beres, ia cepat-cepat bertanya: *"Mama, apa yang telah terjadi di rumah?"* Ibu David berkata: *"Anakku, papamu terkena penyakit berat, sudah lima bulan ini, tidak saja telah meludeskan seluruh tabungan, bahkan karena sakit telah kehilangan tempat kerjanya, sumber penghasilan satu-satunya di rumah telah terputus. Oleh karena itu, sudah 2 bulan ini tidak mengirimimu uang lagi, Mama sebenarnya tidak ingin mengatakannya kepadamu, tetapi kamu sudah dewasa, sudah saatnya mencari nafkah sendiri."* Ibu David berbicara sampai disitu, tiba-tiba menangis tersedu sedan. Di ujung telepon lainnya, air mata David juga *"tes", "tes"* tak hentinya menetes, dan ia berpikir : *"Kelihatannya saya harus drop out dan pulang kampung"*. David berkata kepada ibunya: *"Mama, kamu jangan bersedih, saya sekarang juga akan mencari pekerjaan, pasti akan menghidupi kalian."* Kenyataan yang pahit telah membuat David terpukul hingga pusing tujuh keliling. Masih 1 bulan lagi, semester kali ini akan selesai, jikalau memiliki uang, barang 8 atau 10 dollar saja, maka David mampu bertahan hingga liburan tiba, kemudian menggunakan 2 bulan masa liburan untuk bekerja menghasilkan uang. Akan tetapi sekarang 1 sen pun tak punya, mau tak mau harus drop out. Pada detik ketika David mengatakan *"Sampai jumpa"* kepada ibunya dan meletakkan gagang telpon itu, sungguh luar biasa menyakitkan, karena prestasi kuliahnya sangat bagus, selain itu ia juga menyukai kehidupan di kampus fakultas perdagangan Arlington tersebut. Sesudah meletakkan gagang telpon, pesawat telpon umum tersebut mengeluarkan bunyi gaduh, David dengan terkejut dan terbelalak menyaksikan banyak keping dollar menggerojok keluar dari alat itu. David berjingkrak kegirangan, segera menjulurkan tangannya menerima uang-uang tersebut. Sekarang, terhadap uang-uang itu, bagaimana menyikapinya? Hati David masih merasa sangsi, diambil untuk diri sendiri, 100% boleh, pertama : karena tidak ada yang tahu, ke dua : dirinya sendiri betul-betul sedang membutuhkan. Namun setelah bolak-balik dipertimbangkan, David merasa tidak patut memilikinya. Setelah melalui sebuah pertarungan konflik batin yang hebat, David memasukkan salah satu keping dolar itu ke dalam telepon dan menghubungi bagian pelayanan umum perusahaan telepon. Mendengar penuturan David, nona pelayanan umum berkata: *"Uang itu milik perusahaan telepon, maka itu harus segera dikembalikan (ke dalam mesin telepon)"* Setelah menutup telepon, David hendak memasukkan kembali keping logam uang itu, tetapi sekali demi sekali uang dimasukkan, pesawat otomat itu terus menerus memuntahkannya kembali. Sekali lagi David menelepon, dan pelayanan umum yang berkata: *"Saya juga tak tahu harus bagaimana, sebaiknya saya sekarang minta petunjuk atasan."*Nada bicara David yang sendirian dan tiada yang menolong memancarkan getaran kesepian dan kuyu, nona pelayanan umum sangat dapat merasakannya, menilik perkataan dari ujung telepon dia merasakan seorang asing yang bermoral baik sedang perlu dibantu. Tak lama kemudian, nona pelayanan umum menelepon ulang pesawat otomat yang sedang bermasalah itu. Dia berkata kepada David: *"Saya telah memperoleh ijin dari atasan yang berkata uang tersebut untuk anda, karena perusahaan kami saat ini tidak punya cukup tenaga, tak ingin demi beberapa dollar khusus mengirim petugas ke sana."* *"Hore!"* David meloncat saking gembiranya. Sekarang, uang logam itu secara sah menjadi miliknya. David membungkukkan badannya dan dengan seksama menghitungnya, total berjumlah 9 dollar 50 sen. Uang sejumlah ini cukup buat David bertahan hingga bekerja memperoleh upah pertamanya pada saat liburan nanti. Dalam perjalanan ke kampus, David tersenyum terus sepanjang jalan. Ia memutuskan membeli makanan dengan menggunakan uang itu lantas mencari pekerjaan. Dalam sekejap liburan telah tiba, David telah memperoleh pekerjaan sebagai pengelola gudang supermarket. Pada hari tersebut, David menjumpai boss perusahaan supermarket, menceritakan kepadanya tentang kejadian di telepon umum dan keinginannya untuk mencari pekerjaan. Si boss supermarket memberitahu David boleh datang bekerja setiap saat, tidak hanya pada liburan saja, sewaktu kuliah dan tidak terlalu sibuk juga boleh bergabung, karena boss supermarket merasa David adalah orang yang tulus dan jujur, terutama adalah orang yang seksama, membenahi gudang mutlak bisa dipercaya. David bekerja dengan sangat giat, boss sangat mengapresiasinya dan juga merasa kasihan. Si boss memberinya upah dobel. Sesudah menerima gaji, David mengirimkan keseluruhan gajinya kepada sang ibu, karena pada saat itu David sudah mendapatkan info bahwa ia berhasil memperoleh bea siswa untuk satu semester berikutnya. Sesudah 1 bulan, uang dikirim balik ke David. Sang ibu menulis di dalam suratnya: *"Penyakit ayahmu sudah agak sembuh, saya juga telah mendapatkan pekerjaan, bisa mempertahankan hidup. Kamu harus belajar dengan baik, jangan sampai kelaparan."* Sesudah membaca surat itu, David menangis lagi. David tahu, meski orang tuanya menahan lapar, juga tidak bakal meminta uang kepada David yang sedang perlu dibantu. Setiap kali memikirkan hal ini, David berlinang bersimbah air mata, sulit menenangkan gejolak hatinya. Setahun kemudian, David dengan lancar menyelesaikan kuliahnya. Setelah lulus, David membuka sebuah perusahaan, tahun pertama, David sudah mengantongi laba US$100.000. Ia senantiasa tak bisa melupakan kejadian di telepon umum. Ia menulis surat kepada perusahaan telepon tersebut: *"Hal yang tak bisa saya lupakan untuk selamanya ialah, perusahaan anda secara tak terduga telah membantu dana US$ 9,50 kepada saya. Perbuatan amal ini, telah membuat saya batal menjadi pemuda drop out dan menuju kondisi miskin, bersamaan itu juga telah memberi saya energi tak terhingga, mendorong saya setiap saat tidak melupakan untuk berjuang. Kini saya mempunyai uang, saya ingin menyumbang balik sebanyak US $ 0.000 kepada perusahaan anda, sebagai rasa terima kasih saya."* Boss perusahaan telpon bernama Bill membalasnya dengan surat yang dipenuhi antusiasme : *"Selamat atas kesuksesan kuliah anda dan usaha yang telah berkembang. Kami kira, uang tersebut adalah uang yang paling patut kami keluarkan. Ini bukannya merujuk pada $9,50 yang dikembalikan dengan $ 10.000, melainkan uang itu telah membuat seseorang memahami sebuah petuah tentang prinsip tertinggi kehidupan."* So, di saat-saat paling sulit, Pertama : *Jangan melupakan harapan sudah ada di depan mata.* Kedua : *Jangan lupa menjaga moralitas.* Setelah 20 tahun telah berlalu, bagaimana dengan David? Di kota Chicago, Amerika, terdapat sebuah gedung mewah, yang tampak luarnya menyerupai sebuah bilik telepon umum, itu adalah gedung perusahaan ADDC. Pendiri perusahaan ADDC, Presiden Direktur nya ialah David, selain itu juga David adalah salah satu penyumbang terbesar untuk badan amal.

Mengapa Takut Menulis?

Mengapa kebanyakan orang takut menulis? Salah satu jawaban umum yang dikemukakan oleh banyak orang adalah karena mereka takut kalau-kalau tulisannya ditertawakan oleh orang lain. Mereka juga takut kalau tulisannya tidak sesempurna apa yang mereka harapkan. Mereka mengharapkan tulisannya itu membuat pembaca sedunia mengacungkan jempol. Mereka berharap tulisannya menjadi tulisan terbaik. Kalau sudah seperti itu, mereka mau menuliskan ide-idenya untuk publik. Jika inginnya demikian, kapan lagi kita memulainya? Bukankah tulisan itu harus dimulai dari awal? Bukankah penulis terkenal sekarang dulunya ia juga seperti kita? Bukankah semua bermula dari awal? Saya pribadi tetap beranikan diri untuk menulis. Saya yakin betul bahwa latihanlah yang membuat kita semakin hari semakin sempurna. Satu lagi yang perlu kita ketahui: Sesuatu yang kita anggap tidak bagus (ide tulisan kita), mungkin bagi pembaca itu adalah ide pencerah bagi mereka. Toh yang menilai ide kita adalah pembaca. Kalau ide kita itu masih asbun... Berpikirlah bahwa banyak ide-ide asbun (asal bunyi) dijadikan inspirasi baru oleh orang lain. Adik-adik tak perlu takut menulis. TULIS SAJA apa yang adik-adik ingat. Caranya? Buat aja komentar-komentar dalam blog web kita ini. Selamat mencoba.

Waw... Kereeennn

Adik-adik kami yang membutuhkan info lengkap tentang pendidikan, beasiswa, dan lapangan kerja, kakak kita, Masrizal Umar - Alumni 1989, sudah bikin beberapa link penting untuk adik-adik. Tiada salahnya bila adik-adik mencoba untuk melihat informasi-informasi penting di dalam link tersebut. Perguruan tinggi mana yang akan adik pilih? Apa kiat atau strategi yang dibutuhkan untuk lulus suatu perguruan tinggi tertentu? Bagaimana caranya kuliah dengan biaya GRATIS karena biasiswa? Perusahaan apakah yang bonafid tempat bekerja? Adik-adik dapat mengakses link ikasmala89.blogspot.com.

Minggu, Maret 29, 2009

Re-Lay Out Blog Ikasmala

Ass. Wr. Wb. Sebelumnya saya mohon ma'af kepada Armanto yang telah susah payah men-develop Blog ini, agar bisa menjadi media komunikasi antar alumni. Dengan senang hati saya membantu Armanto untuk mengelola Blog ini, agar bisa memberikan manfaat maksimal bagi alumni dan bagi adik-adik di SMA 1 Lubuk Alung. Sengaja saya tambahkan link dengan Goverment atau pemerintahan karena biasanya informasi tentang penerimaan sekolah kedinasan diberitahu melalui Web tersebut misalnya STAN, AKABRI, STTP, dll. Demikian juga link dengan website dengan Universitas dalam negeri jika adik-adik ingin tahu jurusan di masing-masing pergurun tinggi dan apa keahlian yang dikembangkan disana. Kemudian saya tambahkan juga link dengan beberapa website perusahaan di indonesia yang biasanya menjadi favorit tempat bekerja di swasta atau BUMN. Demikian yang perlu saya sampaikan, dan mungkin saran saya kalau posting makalah lansung di area posting agar lay out-nya jadi lebih rapi. Mungkin nanti kita akan link blog ini dengan menggunakan Facebook atau friendster, tidak ada masalah yang penting rekan alumni bisa berkomunikasi dengan yang lainnya. Bekasi, 29 Maret 2009 Wassalam Masrizal masrizal.umar@live.com www.masrizal-gati.blogspot.com

Sabtu, Maret 21, 2009

BUK ELDA BUKA BIMBEL

Saya baru tahu satu bulan yang lalu bahwa buk Elda, Alumni Ikasmala sekaligus guru matematika di SMA Lubuk ALung, membuka bimbingan belajar di Depan MTs Lubuk Alung. Sebagai guru berprestasi dan wakil kepala sekolah urusan kurikulum di SMA kita, buk Elda memiliki mampu membuka peluang baru bagi siswa untuk meningkatkan mutu saingnya dengan siswa-siswa lain. Pada BIMBEL ini, ia membuka mata pelajaran bahasa Inggris, Matematika, dan Fisika. Semua untuk siswa SMP dan SMA. Saya salut pada dia bahwa tutor atau tenaga pengajarnya diambil dari Padang yang memiliki pengalaman di Bimbel. Ketika saya dihubunginya untuk mengajar bahasa Inggris, saya bersedia mengajar di Bimbel itu. Saya sudah mengajar di bimbel itu dua kali. Kalau ada informasi dari teman-teman / masukannya di tunggu.

SMA KITA NILAI TERTINGGI LHO

Pada pelaksanaan Try Out dan PRA UAN Tingkat propinsi SUmatera Barat, SMA N Lubuk Alung mendapat nilai terbaik satu. Rata-rata nilai Pra UAN mereka di atas 6,5. Ini suatu permulaan yang sangat bagus. Mudah-mudahan saja Adik-adik kita di SMA lulus semua pada UAN bulan April mendatang.