Teman lama

Sekitar jam 13:00 siang tadi, saya menerima telefon dari nomor HP yang tidak saya kenal. Saya agak malas menjawab sipenelfon yang belum terdaftar dalam phone cell saya. Phone cell saya berdering berkali-kali. Saya biarkan ia berdering. Deringan itu akhirnya berhenti. Kemudian, Terdengar lagi deringan baru. Pertanda, ada panggilan ulang untuk saya. Lalu saya angkat. "Assalamu'alaikum? Dengan siapa saya bicara ya?" sapa saya dengan suara yang dilembut-lembutkan. Terus, langsung saja ada jawaban dari seberang sana dengan suara nyosor keras dan sedikit bernada manja. "Hai, Armanto? Dimana kini? Lai takana juo jo ambo lai?" begitu suara itu mulai memberi tanda tanya kepada saya? Lalu saya menjawab, "Mmmhh lupo ambo a! Siapo kiniko?" Lagi-lagi suara itu kembali memberi teka-teki. "Cubolah lah takok dek Ar!. Dulu kito makan durian basamo-samo di Asam Pulau?" tandasnya lagi. Saya semakin penasaran dengan keterangannya tadi. Tetapi, saya bisa memastikan bahwa wanita yang menelfon saya tadi adalah teman lama, teman saat saya di SMA Negeri 1 Lubuk Alung tahun 1989 dulu. Saya terdiam sejenak. Lalu saya ingin menanyakan sekali lagi siapa teman lama saya itu. Tetapi belum sempat saya berbicara di phone cell, tiba-tiba suaranya mendahului. "Lai indak sibuk Ar kini?" tanyanya. "Indak, ambo sadang santai di sekolah kini. Alah siap mengajar." Jawab saya pendek.
"Datang kamari! Ambo kini basamo jo Roseva maidiyanti. Di kadai inyo?"
"Oo.. jadilah. Tapi, dimano kadai Eva tu?"
"Di depan lapangan sepak bola Sungai Abang. Caliak sajo kadai kue Eva!" katanya.
"Oke. Tunggu yo. Ka situ kini." jawab saya.
Phone cell saya tutup setelah menutup salam.

Saya pamit pada rekan-rekan guru yang ada di SMA N 1 Enam Lingkung (tempat saya mengajar). Saya langsung menstarter motor saya. Gas motor sedikit saya naikkan agar laju motor lebih cepat. Di samping mengejar suara teman yang sedang menunggu, saya juga harus ngebut menghindari rintink-rintik hujan yang semakin besar turun.

Tidak berapa lama, saya sudah sampai di kedai kue Eva, depan lapangan sepak bola Sungai Abang. Ketika saya turun dari motor dan membuka helm, saya melihat Roseva Maidyanti. "Ar, ado kawan lamo kamari!" kata Eva.
"Mano inyo Eva? tanya saya.
Yang ditanya menjawab dari dalam kedai Eva. Ia langsung keluar. Saya melihat sesosok wanita seumur saya berjilbab putih. Badannya gemuk. Wajahnya sedikit agak berumur. Saya pandangi terus wajahnya. Tetapi, saya belum tahu siapa wanita itu. Sambil berkelakar untuk menghilangkan ketercengangan, saya bertanya, "Halo, kawan lamo? Taragak bana ambo kini ndak basuo?"
"Ambo iyo taragak basuo jo Armanto" katanya.
Aduuhhh, ia ingat nama saya. Kok, saya tidak ingat wajahnya? Apakah saya sudah terlalu tua untuk mengingat wajah seorang teman 21 tahun yang lalu. Ah..tentu tidak. Rasanya saya jarang bertemu dengan wanita ini. Tidak mungkin dia alumni Fisika. Karena saya tahu bahwa kelas Fisika saya hanya ada 5 bidadari: Dewi Raya, Yenita, Murnita, Wirna Juita, dan Ristiyenti. Loh, yang wanita ini? Tentu saja dia bukan salah satu dari wanita yang lima ini? Lalu siapa dia.

Saya kembali memberanikan diri untuk menatap wajahnya sekali lagi. Saya perhatikan lagi gerak bibirnya.
Astaga... ternyata masih ada raut bibirnya yang mengingatkan saya. Wanita ini dari kelas Biologi. Tetapi siapa namanya.

Tiba-tiba Eva angkat bicara "Ado pernah hubunga Maeda jo Armanto dulu?". Pertanyaan ini memberikan angin segar pada saya bahwa namanya Maeda.
"Indak, cuma kawan biaso. Dulu, awak sering main scrabble jo si Ar waktu di SMA. Lai takana AR?"

Saya yang ditanya menjadi gegap. "Egh..yo... lai takan dek ambo tumah" jawab saya berdusta. Loh kok pernah dia main scrabble dengan saya? Ah.. biarlah untuk apa itu dibahas. Sekarang aku sudah tahu bahwa namanya Maeda.
Pembicaraan saya lanjutkan dengan sering-sering menyebut namanya (Maeda) agar tidak lupa.... (bersambung,...ambo kini ka pai baralek. Urang rumah Nopid alah maimbau. he..he..)

0 comments:

Poskan Komentar