"Datang kamari! Ambo kini basamo jo Roseva maidiyanti. Di kadai inyo?"
"Oo.. jadilah. Tapi, dimano kadai Eva tu?"
"Di depan lapangan sepak bola Sungai Abang. Caliak sajo kadai kue Eva!" katanya.
"Oke. Tunggu yo. Ka situ kini." jawab saya.
Phone cell saya tutup setelah menutup salam.
Saya pamit pada rekan-rekan guru yang ada di SMA N 1 Enam Lingkung (tempat saya mengajar). Saya langsung menstarter motor saya. Gas motor sedikit saya naikkan agar laju motor lebih cepat. Di samping mengejar suara teman yang sedang menunggu, saya juga harus ngebut menghindari rintink-rintik hujan yang semakin besar turun.
Tidak berapa lama, saya sudah sampai di kedai kue Eva, depan lapangan sepak bola Sungai Abang. Ketika saya turun dari motor dan membuka helm, saya melihat Roseva Maidyanti. "Ar, ado kawan lamo kamari!" kata Eva.
"Mano inyo Eva? tanya saya.
Yang ditanya menjawab dari dalam kedai Eva. Ia langsung keluar. Saya melihat sesosok wanita seumur saya berjilbab putih. Badannya gemuk. Wajahnya sedikit agak berumur. Saya pandangi terus wajahnya. Tetapi, saya belum tahu siapa wanita itu. Sambil berkelakar untuk menghilangkan ketercengangan, saya bertanya, "Halo, kawan lamo? Taragak bana ambo kini ndak basuo?"
"Ambo iyo taragak basuo jo Armanto" katanya.
Aduuhhh, ia ingat nama saya. Kok, saya tidak ingat wajahnya? Apakah saya sudah terlalu tua untuk mengingat wajah seorang teman 21 tahun yang lalu. Ah..tentu tidak. Rasanya saya jarang bertemu dengan wanita ini. Tidak mungkin dia alumni Fisika. Karena saya tahu bahwa kelas Fisika saya hanya ada 5 bidadari: Dewi Raya, Yenita, Murnita, Wirna Juita, dan Ristiyenti. Loh, yang wanita ini? Tentu saja dia bukan salah satu dari wanita yang lima ini? Lalu siapa dia.
Saya kembali memberanikan diri untuk menatap wajahnya sekali lagi. Saya perhatikan lagi gerak bibirnya.
Astaga... ternyata masih ada raut bibirnya yang mengingatkan saya. Wanita ini dari kelas Biologi. Tetapi siapa namanya.
Tiba-tiba Eva angkat bicara "Ado pernah hubunga Maeda jo Armanto dulu?". Pertanyaan ini memberikan angin segar pada saya bahwa namanya Maeda.
"Indak, cuma kawan biaso. Dulu, awak sering main scrabble jo si Ar waktu di SMA. Lai takana AR?"
Saya yang ditanya menjadi gegap. "Egh..yo... lai takan dek ambo tumah" jawab saya berdusta. Loh kok pernah dia main scrabble dengan saya? Ah.. biarlah untuk apa itu dibahas. Sekarang aku sudah tahu bahwa namanya Maeda.
Pembicaraan saya lanjutkan dengan sering-sering menyebut namanya (Maeda) agar tidak lupa.... (bersambung,...ambo kini ka pai baralek. Urang rumah Nopid alah maimbau. he..he..)



0 comments:
Poskan Komentar