Apakah sekolah untuk ranah kognitif saja?

Beban belajar siswa SMA rasanya berat. Sekarang siswa SMA, khususnya di kampung saya, boleh dikatakan rata-rata 8-9 jam dalam sehari. Mereka masuk kelas jam 07:30 dan pulang jam 15.00 sore. Jam belajar diperketat sedemikian rupa dengan dalih siswa-siswa dapat menguasai mata pelajaran dengan cepat. Otak siswa-siswa diperas sedemikian rupa dengan tujuan menciptakan anak yang pintar. Waktu istirahat siswa menjadi kurang, waktu untuk membantu orang tua sudah tidak ada lagi, masa untuk bersosialisasi dengan tetangga ataupun dengan teman-teman dekat boleh dikatakan jarang sekali. Siswa-siswa tenggelam menggerinda otaknya untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah dan pekerjaan rumah. Lalu, saya bertanya dalam hati? Memang inikah tujuan dari pendidikan itu? Apakah sekolah itu hanya untuk mengisi kepala saja? Ah...
Pendidikan tidak hanya mengisi otak saja, tetapi ia juga mengisi kepribadian dan raga. Pendidikan hampir menjauh dari tujuan pendidikan nasional kita, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan bangsa bukan berarti mencerdaskan otak semata, tetapi bermaksud mencerdaskan sikap, kepribadian, atau perilaku siswa.
Jika sekolah hanya mengandalkan kecerdasan otak (kognitif), bisakah ini dikatakan bahwa pendidikan di negara kita sudah maju? Sudah sesuai dengan tujuan pendidikan nasional?
Memang bisa diprediksi bahwa siswa-siswa akan memiliki otak "German" karena otaknya terus diasah untuk pengetahuan. Memang benar mereka bisa mengikuti perkembangan ipek dan teknologi karena mereka diorbitkan untuk itu. Tetapi, bagaimana dengan tingkah laku mereka? Lihatlah siswa-siswa di lingkungan tempat tinggal kita sekarang. Kebanyakan siswa hampir menghilangkan tata krama pergaulan, terutama tata krama dalam budaya Minangkabau, yang dikenal dengan istilah Kato Nan Ampek. Pertama, Kato Mandaki. Yang Gadang Dihormati. Tetapi, banyak siswa sekarang sudah tidak lagi menghargai orang yang lebih besar dari mereka. Semuanya "dibawo lalu". Kedua, Kato Manurun, Yang Kecil Disayangi. Sekarang ini, jangankan mereka menyayangi yang kecil, umumnya anak-anak sekolah tidak lagi memperhatikan orang-orang disampingnya. Mereka tidak banyak yang menyayangi orang yang lebih muda daripada mereka. Ketiga, Kato Mandata, Samo Gadang Dibawo Baiyo. Siswa sekarang banyak yang bersikap nafsi-nafsi - mementingkan dirinya sendiri. Saling membantu untuk kebaikan jarang terjadi. Yang banyak terjadi adalah melakukan perbuatan terlarang jika mereka berkumpul dengan teman sebaya. Terakhir,Kato Malereng, Kato khiasan pado Urang Sumando. Namun, entah karena perkembangan zaman, atau karena apa, kata-kata melereng ini sangat jarang dimiliki oleh anak-anak sekarang.
Semua argumen di atas menandakan bahwa benih-benih otak German berprilaku Mafia akan mudah terjadi. Diakui atau tidak, perilaku siswa-siswa sekarang ini ada hubungannya dengan kurikulum kita.

2 comments:

Anonim mengatakan...

Saya setuju bahwa ada yang salah dengan kurikulum sekolah dasar dan menengah kita. Infonya kelas rendah SD di negara maju (eropa)katanya hanya diajarkan MTK, Bahasa Ibu dan budi pekerti bandingkan dg di negara kita, bejibun pelajaran yg harus di hapal So...mungkin perlu tinjauan ulang kurikulum sekolah dasar dan menengah Pak....oke? Deway

Ikasmala mengatakan...

Trims Dewi atas komentarnya. Saya khawatir dengan muatan kurikulum negara kita. Beban belajar yang berat jelas-jelas melanggar HAM anak. Seharusnya pada peringatan hari HAM kemarin, gagasan seperti ini muncul.

Poskan Komentar