Sebuah Villa Kecil di Atas Bukit (Kenangan)

"Jika aku kaya, aku akan membuatkan sebuah villa kecil untuk mu di atas bukit itu". Kalimat imaginatif ini sudah lama saya ucapkan kepada seorang teman. Persis, dua puluh dua satu tahun yang lalu. Waktu itu, hari Minggu siang, saya bersama teman-teman (Rumzi, Christiana, Wildawelis, Risnaneri, dan Ristiyenti) piknik ke Gamaran, Salibutan. Sinar matahari terasa panas sekali seakan-akan ia mampu membakar tubuh.
Kulit muka dan kulit tangan terasa perih dan panas. Saya berkali-kali menyeka wajah saya yang bersimbah keringat. Teman-teman yang lain juga berusaha menyelamatkan wajahnya dari sengatan matahari; pakai topi dan berkerudung kain. Jalan penuh debu berterbangan. Tidak beraspal, masih jalan tanah bercampur kerikil halus sebesar tinju anak kecil dan sebesar ibu jari orang dewasa. Tanah jalan kering kerontang. Dan, setiap langkah menapak bumi, kepulan debu naik ke udara. Anehnya... kami tidak berniat untuk istirahat atau berhenti sejenak. Perjalanan diteruskan. Di kiri-kanan kami memandang bukit-bukit. Dan, di kaki bukit dari salah satu bukit itu mengalir sungai kecil yang bening dan segar airnya. Ke sanalah tempat tujuan kami. Sambil berjalan ke arah bukit itu, kami mengobrol ini dan itu yang tidak tahu ujung pangkalnya. Ngobrol mulai dari cerita tentang keindahan alam, tentang orang bergembala itik, dan tentang orang-orang yang sedang bekerja di kebun.
    Untuk pergi ke tepi sungai kecil itu, kami harus keluar jalan utama, menuruni tebing jalan yang agak tinggi, lalu melompat kecil ke pematang sawah. Kami menelusuri pematang sawah. Kemudian, melompat kecil lagi di atas saluran irigasi. Hopp... sampai deh kaki kami menapaki pematang sawah yang lain. Langkah kaki semakin dipercepat karena kami melihat aliran air sungai kecil dari kejauhan. Bunyi gemericik airnya pun sudah terdengar. Pikiran sudah melayang untuk bisa duduk di atas batu-batu besar di tepi sungai bening itu. Lalu, sambil menjuntaikan kaki-kaki ke air, merasakan
kesejukannya untuk melepas kepenatan berjalan.
    Tidak jauh dari tepi sungai itu, ada sebuah pondok rumbia. Kecil. Tapi, cukup untuk berteduh. Kami, langsung menyerbu ke arah gubuk kecil yang tidak berpenghuni itu untuk meletakkan tas-tas. Teman saya, Cik Uniang dengan gembira berlari--lari kecil ke tepi sungai. Ia langsung  ke tepi sungai, mencuci kakinya yang tidak kotor.
    Saya menatap sebuah bukit hijau. Tidak terlalu tinggi. Puncak bukit itu agak datar. Bekas lahan ladang petani.
    "Apo caliak Ar" sapa Dewi.
    "Indaaak. Cuma maliek-liek sajo ka bukik tu" jawab saya sambil mengarahkan telunjuk tangan kanan saya ke arah puncak bukit itu.
Yang bertanya juga ikut-ikutan melihat ke puncak bukit itu. Dia hanya diam. Tetapi, saya bisa menerka dari arti kerutan di keningnya dan bahasa tubuhnya. Dia bingung. Dan, mungkin mengatakan bahwa tidak ada yang istimewa dengan puncak bukit itu. Saya memahami gerakan ke dua bahunya ke atas yang mungkin mengatakan "tidak apa-apa di bukit sana". 
Saya langsung angkat bicara.
"Apo yang tapikie dek Dewi kalau mancaliak bukik tu?" tanya saya ngelantur sambil saya berpikir untuk menjawab pertanyaan saya sendiri.
"Apo? Indak ado doh. Yang tapikie dek ambo, yo... puncak bukik tu data. Sudah tu, tanahnya bakeh tampek urang baladang. Emangnyo ado apo Ar" tanya Dewi.
Saya juga terkejut mendengar pertanyaannya seperti itu. Saya terdiam sambil mikir-mikir apa yang ada dalam pikiran saya. Saya sendiri juga tidak tahu jawabannya karena yang saya tanyakan tadi kepadanya adalah asal bunyi saja. Sekarang... saya harus mencari jawabannya.
"Eh...kok diam. Apo nan tapikie dek Ar kalau mancaliak bukik tu?" tanya Dewi.
Saya tidak siap menjawab karena saya memang tidak mempersiapkan jawabannya. Lalu, tiba-tiba saja, ada ide baru mengelantur sekedar menjawab pertanyaan teman saya itu.
"Mmmmh... giko Dewi. Kalau ambo kayo nanti, ambo buekkan Dewi sebuah villa di ateh bukik tu. Pemandangan di ateh bukik itu pasti rancak."
Yang mendengar tidak memberikan komentar. Diam. Tutup mulut. Tetapi, ia mengalihkan pada pembicaraan lain. Mungkin ia mikir... "Ah... yang nggak-nggak saja pikirannya" atau " mimpi kali".. he..he.. he..
Saya pun, juga, tidak menanggapi sikap Dewi. Toh, jawaban saya tidak serius pula. Jawaban itu hanya sekedar mengisi keheningan belaka.
Lalu, tiba-tiba ada suara memanggil.
"Ar! Dewi! Ayok makan".
Ternyata yang memanggil Christiana.
Kami melihat semua teman sudah berkumpul dengan nasi bungkus daun pisang. Saya melihat ado "samba lado", telur itik rebus yang sudah dibuang kulit cangkrangnya (kulik talue). Akhirnya, kami semua makan.
Teman saya yang lain, RUMZI R, bareng makan. Tapi... saya lupa... apa dia suka "samba lado", ya?
Akhirnya, setelah menghabiskan banyak kegiatan senang-senang di sana, kami melanjutkan jalan kaki ke tempat lain. (Saya sudah lupa kemana kami pergi setelah berangkat dari tepi sungai itu).
******
Mmmmhhhhhh.... Ini hanya sekedar kenangan. Termasuk salah satu kenangan yang tidak terlupakan bagi saya. Sekarang, kami berlima (Dewi, Rumzi.R, Christiana, Risnaneri, Ristiyenti, dan saya) pergi berpencar entah dimana. Yang jelas tentu "untuk mangurehkan untuang surang-surang" bersama keluarga tercinta.
Betul kata Pak Mendagri Kita, Gamawan Fauzi (waktu itu ia masih Bupati Solok) bahwa salah satu ciri-ciri orang yang sudah "berumur" itu adalah suka membicarakan masa-masa lalu. (Wajar).

0 comments:

Poskan Komentar