Apa yang telah diperbuat oleh ikatan alumni SMA Lubuk Alung? Terutama dari Alumni 1989? Secara parsial, Alumni 89 baru bisa melakukan beberapa hal untuk sekolah. Pertama, Alumni 89 telah memberikan bea siswa kepada beberapa orang siswa miskin. Beasiswa ini diberikan sekali dalam enam bulan guna sedikit membantu meringankan beban mereka. Kedua, Alumni berhasil memberikan bimbingan kepada adik-adik sma tentang pelatihan kewirausahaan. Ketiga, Alumni telah memberikan bimbingan belajar, terutama untuk kelas 3, dalam upaya persiapan menghadapi ujian nasional. Ini saja yang baru dapat diberikan. Seterusnya, semenjak status sma kita berubah menjadi SBI (sekolah Berbasis Internasional) katanya, alumni belum berbuat terhadap sekolah. Mungkin, para alumni sedang mikir-mikir tentang apa yang sebaiknya diberikan kepada sekolah. Ada yang berpikir bahwaalumni peru turun ke lapangan untuk memberikan pengarahan tentang apa yang disebut dengan SNBI itu. Terus, Alumni mungkin perlu pula membantu sekolah tentang apa-apa saja yang diperluakan untuk memicu perkembangan belajar siswa. Hal-hal seperti ini memang ada perlunya dipikirkan. Tetapi, jangan dilupakan bahwa sekolah tidak hanya sekedar untuk mengasah otak saja, tetapi ia harus juga mengasah kepribadian dan moralitas yang halus dan berbudi.
Apa yang telah kita perbuat untuk alumni?
Apa yang telah diperbuat oleh ikatan alumni SMA Lubuk Alung? Terutama dari Alumni 1989? Secara parsial, Alumni 89 baru bisa melakukan beberapa hal untuk sekolah. Pertama, Alumni 89 telah memberikan bea siswa kepada beberapa orang siswa miskin. Beasiswa ini diberikan sekali dalam enam bulan guna sedikit membantu meringankan beban mereka. Kedua, Alumni berhasil memberikan bimbingan kepada adik-adik sma tentang pelatihan kewirausahaan. Ketiga, Alumni telah memberikan bimbingan belajar, terutama untuk kelas 3, dalam upaya persiapan menghadapi ujian nasional. Ini saja yang baru dapat diberikan. Seterusnya, semenjak status sma kita berubah menjadi SBI (sekolah Berbasis Internasional) katanya, alumni belum berbuat terhadap sekolah. Mungkin, para alumni sedang mikir-mikir tentang apa yang sebaiknya diberikan kepada sekolah. Ada yang berpikir bahwaalumni peru turun ke lapangan untuk memberikan pengarahan tentang apa yang disebut dengan SNBI itu. Terus, Alumni mungkin perlu pula membantu sekolah tentang apa-apa saja yang diperluakan untuk memicu perkembangan belajar siswa. Hal-hal seperti ini memang ada perlunya dipikirkan. Tetapi, jangan dilupakan bahwa sekolah tidak hanya sekedar untuk mengasah otak saja, tetapi ia harus juga mengasah kepribadian dan moralitas yang halus dan berbudi.
Foto Lama dan Baru
Hari ini, aku sedang online. Aku memeriksa fb ku untuk melihat apakah ada pesan dari teman-teman. Ternyata memang ada. Kali ini aku bertemu kembali dengan seseorang teman lama di SMA. Ristiyenti namanya. Aku sempat on line bersamanya selama beberapa saat. Kemudian, aku coba melihat koleksi foto-foto dari teman cantik kita ini. Dan.... waw..it's surprised... Ternyata ada koleksi foto-foto kita dulu. Salah satu fotonya adalah foto yang saya upload ini. Foto yang lama kurang bening. Aku tidak bisa melihat wajah teman-teman kita di photo. Tetapi, Aku bisa menebak sebahagian teman-teman yang ada dalam foto. Dalam photo ini juga ada wali kelas kita, Buk Yeni. Terus yang pakai jilbab? Siapakah dia? Bagi teman-teman yang photonya ada di sini, tentu tidak pernah lupa dengan wajahnya ala 89an. Terima kasih banyak RIS, atas photo-photonya. Semoga terobat rindu-rindu kita dalam koridor ikasmala 89.
Sebuah Villa Kecil di Atas Bukit (Kenangan)
Kulit muka dan kulit tangan terasa perih dan panas. Saya berkali-kali menyeka wajah saya yang bersimbah keringat. Teman-teman yang lain juga berusaha menyelamatkan wajahnya dari sengatan matahari; pakai topi dan berkerudung kain. Jalan penuh debu berterbangan. Tidak beraspal, masih jalan tanah bercampur kerikil halus sebesar tinju anak kecil dan sebesar ibu jari orang dewasa. Tanah jalan kering kerontang. Dan, setiap langkah menapak bumi, kepulan debu naik ke udara. Anehnya... kami tidak berniat untuk istirahat atau berhenti sejenak. Perjalanan diteruskan. Di kiri-kanan kami memandang bukit-bukit. Dan, di kaki bukit dari salah satu bukit itu mengalir sungai kecil yang bening dan segar airnya. Ke sanalah tempat tujuan kami. Sambil berjalan ke arah bukit itu, kami mengobrol ini dan itu yang tidak tahu ujung pangkalnya. Ngobrol mulai dari cerita tentang keindahan alam, tentang orang bergembala itik, dan tentang orang-orang yang sedang bekerja di kebun.
Untuk pergi ke tepi sungai kecil itu, kami harus keluar jalan utama, menuruni tebing jalan yang agak tinggi, lalu melompat kecil ke pematang sawah. Kami menelusuri pematang sawah. Kemudian, melompat kecil lagi di atas saluran irigasi. Hopp... sampai deh kaki kami menapaki pematang sawah yang lain. Langkah kaki semakin dipercepat karena kami melihat aliran air sungai kecil dari kejauhan. Bunyi gemericik airnya pun sudah terdengar. Pikiran sudah melayang untuk bisa duduk di atas batu-batu besar di tepi sungai bening itu. Lalu, sambil menjuntaikan kaki-kaki ke air, merasakan
kesejukannya untuk melepas kepenatan berjalan.
kesejukannya untuk melepas kepenatan berjalan.
Tidak jauh dari tepi sungai itu, ada sebuah pondok rumbia. Kecil. Tapi, cukup untuk berteduh. Kami, langsung menyerbu ke arah gubuk kecil yang tidak berpenghuni itu untuk meletakkan tas-tas. Teman saya, Cik Uniang dengan gembira berlari--lari kecil ke tepi sungai. Ia langsung ke tepi sungai, mencuci kakinya yang tidak kotor.
Saya menatap sebuah bukit hijau. Tidak terlalu tinggi. Puncak bukit itu agak datar. Bekas lahan ladang petani."Apo caliak Ar" sapa Dewi.
"Indaaak. Cuma maliek-liek sajo ka bukik tu" jawab saya sambil mengarahkan telunjuk tangan kanan saya ke arah puncak bukit itu.
Yang bertanya juga ikut-ikutan melihat ke puncak bukit itu. Dia hanya diam. Tetapi, saya bisa menerka dari arti kerutan di keningnya dan bahasa tubuhnya. Dia bingung. Dan, mungkin mengatakan bahwa tidak ada yang istimewa dengan puncak bukit itu. Saya memahami gerakan ke dua bahunya ke atas yang mungkin mengatakan "tidak apa-apa di bukit sana".
Saya langsung angkat bicara."Apo yang tapikie dek Dewi kalau mancaliak bukik tu?" tanya saya ngelantur sambil saya berpikir untuk menjawab pertanyaan saya sendiri.
"Apo? Indak ado doh. Yang tapikie dek ambo, yo... puncak bukik tu data. Sudah tu, tanahnya bakeh tampek urang baladang. Emangnyo ado apo Ar" tanya Dewi.
Saya juga terkejut mendengar pertanyaannya seperti itu. Saya terdiam sambil mikir-mikir apa yang ada dalam pikiran saya. Saya sendiri juga tidak tahu jawabannya karena yang saya tanyakan tadi kepadanya adalah asal bunyi saja. Sekarang... saya harus mencari jawabannya.
"Eh...kok diam. Apo nan tapikie dek Ar kalau mancaliak bukik tu?" tanya Dewi.
Saya tidak siap menjawab karena saya memang tidak mempersiapkan jawabannya. Lalu, tiba-tiba saja, ada ide baru mengelantur sekedar menjawab pertanyaan teman saya itu.
"Mmmmh... giko Dewi. Kalau ambo kayo nanti, ambo buekkan Dewi sebuah villa di ateh bukik tu. Pemandangan di ateh bukik itu pasti rancak."
Yang mendengar tidak memberikan komentar. Diam. Tutup mulut. Tetapi, ia mengalihkan pada pembicaraan lain. Mungkin ia mikir... "Ah... yang nggak-nggak saja pikirannya" atau " mimpi kali".. he..he.. he..
Saya pun, juga, tidak menanggapi sikap Dewi. Toh, jawaban saya tidak serius pula. Jawaban itu hanya sekedar mengisi keheningan belaka.
Lalu, tiba-tiba ada suara memanggil.
"Ar! Dewi! Ayok makan".
Ternyata yang memanggil Christiana.
Kami melihat semua teman sudah berkumpul dengan nasi bungkus daun pisang. Saya melihat ado "samba lado", telur itik rebus yang sudah dibuang kulit cangkrangnya (kulik talue). Akhirnya, kami semua makan.
Teman saya yang lain, RUMZI R, bareng makan. Tapi... saya lupa... apa dia suka "samba lado", ya?
Akhirnya, setelah menghabiskan banyak kegiatan senang-senang di sana, kami melanjutkan jalan kaki ke tempat lain. (Saya sudah lupa kemana kami pergi setelah berangkat dari tepi sungai itu).
******
Mmmmhhhhhh.... Ini hanya sekedar kenangan. Termasuk salah satu kenangan yang tidak terlupakan bagi saya. Sekarang, kami berlima (Dewi, Rumzi.R, Christiana, Risnaneri, Ristiyenti, dan saya) pergi berpencar entah dimana. Yang jelas tentu "untuk mangurehkan untuang surang-surang" bersama keluarga tercinta.
Betul kata Pak Mendagri Kita, Gamawan Fauzi (waktu itu ia masih Bupati Solok) bahwa salah satu ciri-ciri orang yang sudah "berumur" itu adalah suka membicarakan masa-masa lalu. (Wajar).
Apakah sekolah untuk ranah kognitif saja?
Beban belajar siswa SMA rasanya berat. Sekarang siswa SMA, khususnya di kampung saya, boleh dikatakan rata-rata 8-9 jam dalam sehari. Mereka masuk kelas jam 07:30 dan pulang jam 15.00 sore. Jam belajar diperketat sedemikian rupa dengan dalih siswa-siswa dapat menguasai mata pelajaran dengan cepat. Otak siswa-siswa diperas sedemikian rupa dengan tujuan menciptakan anak yang pintar. Waktu istirahat siswa menjadi kurang, waktu untuk membantu orang tua sudah tidak ada lagi, masa untuk bersosialisasi dengan tetangga ataupun dengan teman-teman dekat boleh dikatakan jarang sekali. Siswa-siswa tenggelam menggerinda otaknya untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah dan pekerjaan rumah. Lalu, saya bertanya dalam hati? Memang inikah tujuan dari pendidikan itu? Apakah sekolah itu hanya untuk mengisi kepala saja? Ah...
Selengkapnya
Pendidikan tidak hanya mengisi otak saja, tetapi ia juga mengisi kepribadian dan raga. Pendidikan hampir menjauh dari tujuan pendidikan nasional kita, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan bangsa bukan berarti mencerdaskan otak semata, tetapi bermaksud mencerdaskan sikap, kepribadian, atau perilaku siswa.
Jika sekolah hanya mengandalkan kecerdasan otak (kognitif), bisakah ini dikatakan bahwa pendidikan di negara kita sudah maju? Sudah sesuai dengan tujuan pendidikan nasional?
Memang bisa diprediksi bahwa siswa-siswa akan memiliki otak "German" karena otaknya terus diasah untuk pengetahuan. Memang benar mereka bisa mengikuti perkembangan ipek dan teknologi karena mereka diorbitkan untuk itu. Tetapi, bagaimana dengan tingkah laku mereka? Lihatlah siswa-siswa di lingkungan tempat tinggal kita sekarang. Kebanyakan siswa hampir menghilangkan tata krama pergaulan, terutama tata krama dalam budaya Minangkabau, yang dikenal dengan istilah Kato Nan Ampek. Pertama, Kato Mandaki. Yang Gadang Dihormati. Tetapi, banyak siswa sekarang sudah tidak lagi menghargai orang yang lebih besar dari mereka. Semuanya "dibawo lalu". Kedua, Kato Manurun, Yang Kecil Disayangi. Sekarang ini, jangankan mereka menyayangi yang kecil, umumnya anak-anak sekolah tidak lagi memperhatikan orang-orang disampingnya. Mereka tidak banyak yang menyayangi orang yang lebih muda daripada mereka. Ketiga, Kato Mandata, Samo Gadang Dibawo Baiyo. Siswa sekarang banyak yang bersikap nafsi-nafsi - mementingkan dirinya sendiri. Saling membantu untuk kebaikan jarang terjadi. Yang banyak terjadi adalah melakukan perbuatan terlarang jika mereka berkumpul dengan teman sebaya. Terakhir,Kato Malereng, Kato khiasan pado Urang Sumando. Namun, entah karena perkembangan zaman, atau karena apa, kata-kata melereng ini sangat jarang dimiliki oleh anak-anak sekarang.
Semua argumen di atas menandakan bahwa benih-benih otak German berprilaku Mafia akan mudah terjadi. Diakui atau tidak, perilaku siswa-siswa sekarang ini ada hubungannya dengan kurikulum kita.
Jika sekolah hanya mengandalkan kecerdasan otak (kognitif), bisakah ini dikatakan bahwa pendidikan di negara kita sudah maju? Sudah sesuai dengan tujuan pendidikan nasional?
Memang bisa diprediksi bahwa siswa-siswa akan memiliki otak "German" karena otaknya terus diasah untuk pengetahuan. Memang benar mereka bisa mengikuti perkembangan ipek dan teknologi karena mereka diorbitkan untuk itu. Tetapi, bagaimana dengan tingkah laku mereka? Lihatlah siswa-siswa di lingkungan tempat tinggal kita sekarang. Kebanyakan siswa hampir menghilangkan tata krama pergaulan, terutama tata krama dalam budaya Minangkabau, yang dikenal dengan istilah Kato Nan Ampek. Pertama, Kato Mandaki. Yang Gadang Dihormati. Tetapi, banyak siswa sekarang sudah tidak lagi menghargai orang yang lebih besar dari mereka. Semuanya "dibawo lalu". Kedua, Kato Manurun, Yang Kecil Disayangi. Sekarang ini, jangankan mereka menyayangi yang kecil, umumnya anak-anak sekolah tidak lagi memperhatikan orang-orang disampingnya. Mereka tidak banyak yang menyayangi orang yang lebih muda daripada mereka. Ketiga, Kato Mandata, Samo Gadang Dibawo Baiyo. Siswa sekarang banyak yang bersikap nafsi-nafsi - mementingkan dirinya sendiri. Saling membantu untuk kebaikan jarang terjadi. Yang banyak terjadi adalah melakukan perbuatan terlarang jika mereka berkumpul dengan teman sebaya. Terakhir,Kato Malereng, Kato khiasan pado Urang Sumando. Namun, entah karena perkembangan zaman, atau karena apa, kata-kata melereng ini sangat jarang dimiliki oleh anak-anak sekarang.
Semua argumen di atas menandakan bahwa benih-benih otak German berprilaku Mafia akan mudah terjadi. Diakui atau tidak, perilaku siswa-siswa sekarang ini ada hubungannya dengan kurikulum kita.
Langganan:
Entri (Atom)


