![]() |
| Yusnedi Yakub (Alm) |
Kepergianmu juga membawa sebahagian dari hidup saya.
Sehari sebelum kepergianmu ke alam baka, kita masih bercanda ria. Bercerita tentang masa-masa sekolah kita dahulu. teman-teman kita, dan tentang orang-orang yang kita sayangi dan yang kita cintai, yang pernah singgah dalam hati kita. Saya doakan semoga hidupmu lebih baik lagi di alam sana. Tidurlah dengan tenang dan damai sahabat. Semoga amal dan ibadahmu dapat mendamaikan tidurmu. Amiin.
Sabtu,15 Januari 2011 Jam 11:00 pagi,
Saya bersama Christiana dan Wiwi (Sahabatnya Cristiana) sudah sampai di rumah Yusnedi di Lubuk Minturun. Pintu mobil Katana merah langsung saya buka, Christianapun melakukan hal yang sama. Dihadapan kami berdiri, menjulang sebuah rumah besar. Itulah rumah Yusnedi Yakub. Desain rumahnya mewah dan elegan. Garase mobilnya bergaya artitistik klasik meskipun tempat mobil itu belum sepenuhnya siap. Dinding rumahnya baru saja siap diplaster. Belum dicat. Meskipun rumah itu baru siap 40% pekerjaannya, ditaksir rumah itu akan menelan biaya yang cukup besar sampai kelar.
Saya duduk berjuntai di bibir teras rumahnya. Kami menunggu kedatangan Yusnedi yang katanya masih di luar. Tidak berapa lama kemudian, Yusnedi sudah sampai di depan rumahnya dengan Avanza hitam. Ia bersama dengan isteri dan seorang anak lelakinya.
"Udah lama sampai Ar?" katanya memulai percakapan awal.
"Barusan Edi. Baru lima menit" jawab saya.
Yusnedi memulai pembicaraannya tentang rumahnya.
"Besar kan Ar rumah saya?"
"Besar sekali Di.. kesannya juga mewah" balas saya
Ia melanjutkan: "Ruang tengah ini bisa menampung 200 orang teman kita Ar, ikasmala 89. Juga untuk diskusi pemilihan bupati empat tahun yang akan datang" kelakarnya.
"Bagusnya memang disini aja kita gelar pertemuan alumni ikasmala 89 Di, tempatnya sangat besar. Trus, kalau Di mau jadi Bupati, itu tanggung Di, bagusnya mencalonkan diri aja jadi gubernur" jawab saya berseloroh.
"Ya iyalah Ar, tapi kita mulai dulu dari bawah, ya nggak" katanya sambil tertawa kecil.
Sambil bicara, jari-jari tangan saya sibuk mencari nama Rumzi dalam hp saya. Saat nama Rumzi muncul, saya langsung menghubunginya. Rumzi menjawab salam saya, ternyata ia di Bandung karena ada urusan di sana. Saya mengatakan kepada Rumzi bahwa Christiana dan Yusnedi Yakub ada bersama saya. Lalu, saya memberikan hp saya kepada Yusnedi. Akhirnya kami menelpon bareng berempat (teleconfrence) sambil bersenda gurau. Pembicaraan cukup lama dan menyenangkan.
Tidak beberapa lama, di depan kami lewat penjual buah-buahan dengan becak gerobaknya. Yusnedi mengeluarkan tiga lembar uang lima ribuan dan memberikannya kepada saya.
"Ar, beli buah-buahan! katanya.
Saya mengangguk dan menepis uang yang disodorkannya. Saya maunya membeli buah-buahan itu dengan uang saya sendiri. Tetapi, Yusnedi bersikeras agar uangnya yang dipakai untuk beli buah-buahan. Saya terpaksa mengambil uang itu dari tangannya.
Saya membeli lima iris semangka, lima iris pepaya, dua bungkus tebu yang sudah dipotong-potong kecil, dan tiga iris nenas. Kelima belas buah-buahan itu saya bawa ke dalam rumah. Di salah satu dinding, di tengah rumah raksasa itu, Yusnedi mengembangkan sebuah tikar plastik warna oranye buram. Kami duduk di atas tikar itu. Pembicaraan kami lanjutkan.
Awalnya saya yang mulai angkat bicara: "Edi saya minta tolong nih, gimana caranya pindah ngajar ke Perguruan tinggi swasta kopertis wilayah x?" . Lalu ia menanggapinya: "Sebenarnya, Ar bagusnya ngajar di perguruan tinggi negeri aja, kan di sana banyak peluang untuk karir akademik". Tetapi, ya itu semua tergantung kepada tujuan Ar pindah ke sana?
Saya memahami maksud pertanyaannya. Saya menjawab: "ke perguruan tinggi negeri memang bagus Edi. Dapat gelar, dan bisa kuliah ke tingkat yang lebih tinggi, bisa nanti jadi profesor. tetapi, saya nggak memikirkan itu lagi Edi. setelah umur 41 ini, saya lebih fokus pada umega aja di,, yaitu usaha menambah gaji. Biarlah nama, pangkat dan jabatan itu milik orang lain, yang penting bagi saya adalah gimana caranya ada perubahan ekonomi hidup saya" begitulah saya mengomentarinya."Kalau begitu Ar, ya baguslah Ar di kopertis saja. Nanti saya coba minta bantuan pada teman saya yang ada di kopertis" jawabnya.Lalu, Wiwi (teman christiana) meminta bantuan juga tentang perkara tanah di kampungnya yang belum berakhir hingga sekarang. pada hal dalam keputusan pengadilan, pihak Wiwi menang perkara, namun pihak rivalnya tidak menerima kenyataan itu.
Yusnedi lagi-lagi menjawab pertanyaan itu dan memberikan solusinya. Ia berbicara sangat antusias, tampaknya ia hafal semua pasal-pasal perkara tanah dengan sempurna. Ia juga menjelaskan perkara tanah yang ada di Minangkabau ini. Ia bahkan banyak mengetahui adat hukum Minangkabau, ia juga menjelaskan kepada kami beda jenis-jenis kepemilikan tanah di Minangkabau. Ia juga membedakan antara sako dan pusako. Semua ia tuntaskan dengan ringan dengan hukum adat yang ada.Yusnedi lagi-lagi banyak cerita tentang kenangan masa lalu di SMP. Saya yang sekelas dengan dia terus menyela dan menyambung pembicaraannya sehigga cerita dulu itu menjadi lengkap. Ia mulai menceritakan kemampuannya memimpin barisan dan memimpin upacara waktu di SMP. Lalu, saya memotong pembicaraannya. "Edi, kamu tahu nggak kenapa kami memilih kamu sebagai ketua kelas I G dulu?" Lalu ia jawab:"Ya, karena saya mampu lah AR" jawabnya pede. "Waktu itu bukan itu alasannya Edi, kami memilih kamu sebagai ketua kelas kami karena suaramu yang besar dan keras itu". Ha..ha..ha...ha.. kami sama-sama ketawa... Kalau kamu yang memimpin upacara nggak perlu pakai mik Edi, udah kedengaran jelas dari barisan belakang" kata saya.Terus kami mulai menceritakan, tentang teman-teman kami yang ngetop waktu kelas IG dulu. Mereka ngetop karena mereka sering dipanggil keluar-masuk kantor; karena alasan kecil-kecil udah pada pacaran..he..he..he.. (Yah.. memang waktu itu kelas I-G penuh dengan gadis-gadis cantik yang sering diincar oleh siswa-siswa kelas lain.)
Kami juga sempat membicarakan tentang wali kelas kami waktu kelas 1-g itu. Kami punya tiga orang wali kelas dalam satu tahun, wali kelas kami yang pertama adalah ibu Deswita Diana. Kemudian karena ibu Deswita Diana hamil, ia cuti ngajar. Wali kelas kami yang kedua adalah ibuk Laila ... (laila apa ya? saya lupa ujung namanya). Kemudian, entah apa sebabnya, wali kelas kami digantikan pula oleh ibu Desima. Trus, Yusnedi bilang bahwa buku rapor kami yang semester satu, dia yang ngisi. Katanya, ibu Desima meminta pertolongannya untuk mengisi rapor.
Yusnedi terus ngoceh berapi-api tentang kegiatan pramuka di sekolah. Ia tetap menjadi ketua dan yang terbaik. Bahkan, ia juga mengatakan bahwa bila ada kegiatan pelatihan-pelatihan ia terus mendapatkan nilai terbaik.
Saat ia berada dalam pelatihan kejaksaanpun, ia juga mendapatkan peringkat tiga besar se Indonesia. Puncak pembicaraannya, Yusnedi juga bercerita tentang kepiawaiannya memimpin upacara di lapangan gubernur. Katanya upacara yang ia pimpin persis seperti suasana upacara di istana negara, kidmat dan tertib. Lalu, katanya, selesai upacara semua teman menyalami dia, bahkan isterinya pun memeluknya erat-erat saking bangganya pada suaminya. Yusnedi bicara berapi-api, seolah-olah ia tidak mau meninggalkan sedetikpun cerita tentang dirinya. ia juga menyampaikan kepada kami tentang penghargaan yang ia peroleh. Terakhir, ia juga menyampaikan kemampuannya saat tarik suara di tempat ia pelatihan.
Pembicaraan tentang seseorang yang ia kasihi juga tidak luput siang itu. Secara jujur ia menyatakan perasaannya kepada kami dan juga pada si dia. saya terkadang juga heran mengapa ia berani mengutarakannya dihadapan isterinya sendiri. Ada sesuatu yang aneh dari dirinya, tetapi saya tidak bisa menterjemahkan keanehan itu. Saya juga merasa kasihan kepada hatinya dan cintanya yang terpendam kepada seseorang, sehingga ia sering menanyakan keadaan buah hatinya itu kepada saya setiap saat. namun, ia juga menyadari sendiri bahwa cintanya itu tidak mungkin lagi berbalas, karena ia sudah memiliki pilihannya, dan orang yang dicintainya juga sudah milik orang lain.
Ia pernah bicara pada saya. "Ar... suatu hari nanti saya akan menyanyikan sebuah lagu. Judulnya "Menjemput yang tertinggal". Bahkan ia perjelas lagi dalam bahasa Minang :Manjapuik yang taicie.
Jam 12:30.
Perut kami sudah terasa kosong, ingin untuk diisi. Yusnedi mengajak kami untuk makan di sebuah makan yang tampaknya terkenal atau sering ia kunjungi di Lubuk Minturun ini. Saya lupa nama rumah makan ini. Tetapi saya ingat letaknya, yaitu di tepi drainase, dan di depannya terbentang jembatan panjang dan lebar. Dan... di atas jembatan pinggir kiri itu kami memarkir mobil. Kami memilih tempat duduk di bagian sebelah utara yang dekat dengan aliran air mengalir. Kami duduk bersila. tidak ada kursi. Hanya meja makan yang berkaki pendek. 20 centimeter cuma tingginya.
Makanan sudah terhidang dihadapan kami. semua hidangan sudah siap."Yang bertutup kain pisang tu, enak rasanya AR" kata Yusnedi memulai pembicaraan sambil makan. "ya.. kelihatannya mengundang perhatian saya. Sepertinya semua yang tertutup itu menggugah hati kita untuk melihatnya. Apa gerangan makanan yang ada di dalam bungkusan daun pisang ini?" kata saya bergurau. "Ya.. buka aja AR!" katanya. Saya langsung membuka bungkusan daun pisang itu. saya coba merobek sedikit saja daun pisang itu, saya melihat ada rebus petai, ikan teri rebus bergelimang dengan samba lado giling. Saya coba cicipi ikan teri bercampur cabe itu. Pedas. Tetapi enaak sekali.
"Nah gimana rasanya Ar" tanya Yusnedi.
"Betul Edi, Enaak sekali."
"Dipakai nggak Ar, gulai kepala ikan asin tu?" tanyanya sambil menunjuk ke gulai ikan yang terletak dihadapan saya. Saya langsung mengangkat piring gulai ikan itu dan memberikan kepadanya.
Kami makan dengan lahap. Yussnedi masih bisa bercanda pada Christiana. Ia mengambil piring sebuah gulai dan menyerahkannya kepada Christiana sambil berkata: "Tengok Ar, betapa baiknya saya Tachi ini (maksudnya Christiana)". Kami semua membalasnya dengan senyuman saja.
Selesai makan siang, kami sholat bergantian. Giliran ibu-ibu yang duluan sholat. Saya dan Yusnedi menunggu giliran. Saya memperhatikan mata Yusnedi tertuju kepada Christiana yang sedang sholat, dekat disampingnya. Batas tempat sholat dengan tempat duduk kami hanyalah dibatasi sehelai tikar pandan tipis saja. Sekilas saya lihat Yusnedi melamun habis. Matanya berhenti berkedip. Terbuka. Menerawang.
Saya mengejutkan dia. "Kok. termenung Di? Sebenarnya saya tahu bahwa dia menatap kekasih hatinya dengan pandangan yang cukup berarti. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Apakah ia ingin menyampaikan sesuatu sebelum ia meninggalkan dunia ini? Wallahu alam saya tidak pernah membayangkan pikirannya seperti itu.
Yusnedi sedikit terjaga dari lamunannya menatap kekasih hatinya itu. Tetapi, tampaknya ia mampu menetralkan keadaannya. Ia tersenyum kepada saya untuk bermaksud tidak terjadi apa-apa, tetapi ia tidak berkata sepatahpun.
Kini tibalah giliran saya dan Yusnedi untuk pergi ke kamar kecil untuk berwudhu. Di depan kamar kecil itu, Yusnedi menyempatkan dirinya untuk bertanya pada saya tentang kekasih hatinya. Saya menjawabnya bahwa Edi tidak bertepuk sebelah tangan. Saya katakan bahwa dia juga mempunyai perasaan yang sama seperti yang dia rasakan. Lalu, saya langsung masuk ke kamar kecil untuk berwudhu.
Setelah berwudhuk, saya langsung pergi ke tempat sholat. Ada dua sajadah terdampar di tempat sholat. yang satu berwarna hijau letaknya agak ke depan, dan sajadah yang satu lagi adalah merah yang letaknya agak ke belakang. Saya memilih sajadah hijau untuk tempat sholat.
Sambil sholat (mungkin saya tidak khusuk sholatnya), saya merasakan bahwa Yusnedi juga sudah mengangkat kedua belah tangannya ke atas untuk mengucapkan Allahu Akbar.
Saya melanjutkan sholat saya hingga rakaat terakhir. Saya berdoa pendek dengan membaca doa sapu jagad, Rabbana attina dan seterusnya. Tetapi, saya belum beranjak dari sajadah tempat sholatku. Saya menunggu Yusnedi hingga siap sholat. saya memperhatikan betapa khusuk sholatnya. Lalu, setelah menutup salam terakhirnya, Yusnedi berdoa dengan takjub, terlihat di keningnya yang sedikit berkerut sebagai pertanda ia benar-benar meminta kepada Allah agar doanya dikabulkan oleh Allah.
Selesai berdoa, saya menyalami Yusnedi. dan, kami kembali duduk kami semula. Tiba-tiba Christiana buka mulut. "Ar, kita jadi ke pasar kan?
Yusnedi menanggapi perkataan Christiana itu dan menawarkan untuk pergi dengan mobilnya saja.Tetapi saya sedikit menampik untuk tidakjadi pergi ke pasar raya Padang karena saya harus balik lagi ke Lubuk Alung untuk ngajar.
"Jadi nggak jadi ke pasar Ar?" tanya Yusnedi.
"Apa boleh buat Edi, saya harus kembali ke Lubuk Alung untuk mengajar di bimbel Global pada jam satu" kata saya.
Yusnedi memahaminya.
Jam 1:30, saya diantar Edi ke simpang tiga Lubuk Minturun, di sana, saya turun dari mobil avanza hitamnya, dan pindah ke mobil Katana merah Kristiana. Ia mengantar saya sampai ke Katana itu dan mengingatkan kami untuk berhati-hati. Sekilas, saya melihat sorot matanya yang dalam menatap wajah Christiana. Entah apa maksudnya.
Kami segera pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Yusnedi atas traktir makan dan kebaikan sambutannya. Ia tidak melambaikan tangannya, tetapi dari kaca spion mobil saya perhatikan bahwa ia menengok mobil kami sampai hilang dari pandangannya.
Sekitar 45 menit perjalanan, kami sudah sampai di Buayan. Lag-lagi, ada telefon dari Yusnedi kepada saya.
"Ar, udah sampai dimana?""Buayan Edi, depan SD buayan" jawab saya.
"Mhhh jangan kau ganggu Ar, teman yang ada disampingmu itu. Aku suka padanya." Demikian Yusnedi berseloroh.
"Tenang aja ketua. Saya tidak akan mengganggunya. Kan ada pengawal di belakang saya ini. Lagian, keberangkan ini sudah ada izin suaminya" kata saya yang juga sedikit bergurau.
Pembicaraan kami terhenti karena tampaknya sudah tidak ada lagi yang akan disampaikannya.
Jam 21:00 malam,
Saya berdiri menunggu travel yang akan membawa saya ke Pekan Baru. Yusnedi kembali menelfon saya.
"Ar, Gimana khabarnya Christiana? Apa katanya tadi pagi?" Ia bertanya pada saya seolah-olah ia tahu betul dengan diri saya. Saya mengatakan kepadanya bahwa semenjak pulang dari Padang tadi, saya belum menelpon Christiana. Saya tidak sempat menjawab telefonnya berlama-lama karena mobil travel saya sudah datang. Tetapi, ia masih sempat menyodorkan kepada saya bahwa jika saya punya masalah di pekan baru, telefon sajalah saya AR, karena banyak teman-teman saya yang bisa membantu Ar di Pekan Baru nanti. Saya mengucapkan terima kasih kepadanya. Dan, kemudian pembicaraan kami terputus.
Inilah semua pertemuan terakhir saya bersama Yusnedi Yakub. Kepada teman-teman yang tersebut dalam kisah satu hari bersama Yusnedi, saya mohon maaf kalau ada penyampaian yang tidak berkenan. Jujur.




0 comments:
Poskan Komentar